https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kemana Pemerintah Daerah Lampung Timur, Tangis Tanpa Suara Ayah dan Ibu Menatap Tubuh Mungil Ulfa Yang Melepuh

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Lampung Timur, Kompassindonesianews – Kisah memilukan datang dari pasangan tuna wicara yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Timur, di usia yang baru 4,5 tahun, saat anak-anak seusianya sedang aktif bermain dan tertawa, Adik Zulya Ulfa harus terbaring menahan perih yang teramat sangat. Sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya dalam sekejap, tubuh mungil Ulfa tersiram santan mendidih hingga mengalami luka bakar parah nyaris di sekujur tubuhnya.

Saat ini, putri bungsu dari bapak Leman dan Mulyanah tersebut sedang berjuang di bangsal perawatan RSUD ABDOEL MOELOEK BANDAR LAMPUNG. Di balik balutan perban tebal yang membungkus tubuhnya, ada rasa sakit luar biasa yang harus ditanggung bocah sekecil itu.

Ujian Bertubi-tubi bagi Keluarga Tuna Wicara tersebut, Ulfa terlahir dari keluarga yang sangat sederhana di Desa Tulung Pasik, Dusun 1, Kecamatan Mataram Baru, Kabupaten Lampung Timur. Ia adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara.

Ujian hidup keluarga ini begitu berat. Kedua orang tua Ulfa adalah penyandang tuna wicara: Bapak Leman (49 th) dan Ibu Mulyanah (45 th). Kesedihan ini kian berlapis karena kakak Ulfa yang bernama M. Zefri Pratama (7 th) juga seorang tuna wicara.

Ketika Ulfa menjerit kesakitan akibat luka bakar tersebut, ayah dan ibunya hanya bisa menangis tanpa bisa bersuara. Mereka mendekap Ulfa, mencoba menenangkan lewat bahasa isyarat dan tatapan mata yang dipenuhi air mata. Mereka ingin sekali mengatakan “Ibu dan Ayah ada di sini, Nak,” namun keterbatasan fisik membuat jeritan hati mereka tertahan di dada.

Sudah Tak Punya Rumah Layak, Kini Dihantam Biaya Medis, beban hidup Bapak Leman seakan tiada habisnya. Selain keterbatasan fisik, keluarga kecil ini tidak memiliki rumah yang layak. Untuk berteduh dari hujan dan terik, saat ini mereka hanya bisa menumpang di lahan milik saudara, dan bangunan rumah yang mereka tempati pun bukan milik sendiri.

Pekerjaan Bapak Leman hanyalah seorang buruh serabutan yang penghasilannya tidak menentu. Sang istri, Ibu Mulyanah, sudah berusaha membantu dengan berjualan jajanan keliling kampung, namun hasilnya sering kali hanya cukup untuk sekadar membeli garam dapur. Jangankan untuk membangun rumah, untuk biaya berobat Ulfa saat ini mereka sama sekali tidak punya simpanan.

Kini di rumah sakit, Bapak Leman sangat mengharapkan doa dan uluran tangan dari para hamba Allah serta bantuan dari pihak pemerintah daerah Lampung Timur. Meskipun ada BPJS, masih banyak biaya luar biasa yang mencekik mereka, seperti:
– Biaya transportasi darurat dari Lampung Timur ke Rumah Sakit di Bandar Lampung.
– Pembelian obat-obatan khusus luar BPJS demi kesembuhan luka bakar Ulfa.
– Kebutuhan nutrisi khusus dan vitamin penunjang agar kulit Ulfa bisa segera beregenerasi.

Tanpa adanya bantuan dari pihak pemerintah, kemana keluarga tuna wicara ini harus mengadukan kesulitan yang kini tengah dihadapinya, tidak tahu bagaimana cara sang ayah tuna wicara yang tak punya rumah ini dapat mampu menebus obat-obatan untuk sang putri kecil tercintanya.

“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan satu kesusahan darinya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.”

Masyarakat kini bertanya-tanya, kemana para pemimpin daerah yang sebelumnya rela bertekuk lutut demi mendapatkan suara dalam pilkada, ketika masyarakatnya sedang dalam kesulitan seakan tak satupun yang memperdulikan.

#Andi Selagai

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *