https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Tekan Angka Anak Putus Sekolah, Pemkab Sleman Resmi Luncurkan Aplikasi Gandheng AST

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten SlemanKompassIndonrsianews.com Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman resmi meluncurkan aplikasi Gandheng ATS (Gerakan Andhum Handarbeni Penanganan Anak Putus Sekolah), yang berbasis Early Warning System. Inovasi digital besutan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman ini hadir sebagai sistem peringatan dini, sekaligus intervensi kebijakan atas tingginya angka anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Sleman.

” Peluncuran tersebut berlangsung di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, yang dilakukan secara langsung oleh Bupati Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya, pada Rabu 5 Agustus 2026.

” Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, menyampaikan bahwa peluncuran aplikasi ini berlandasan Peraturan Presiden RI Nomor 3 Tahun 2026 dan Peraturan Bupati Kabupaten Sleman Nomor 40 Tahun 2024,” jelasnya.

Program ini ditopang tiga strategi utama yaitu penguatan regulasi melalui SOP pelayanan terpadu, penguatan koordinasi lintas sektor, serta pengembangan sistem monitoring digital berbasis Early Warning System (EWS).

” Lanjutnya, Gandheng ATS merupakan respon kebijakan atas kebutuhan transformasi tata kelola yang kolaboratif dan adaptif. Kami mengusung filosipi Andhum Handarbeni berbagi rasa, memiliki, dan bertanggung jawab bersama demi mewujudkan Sleman bebas ATS,” tambah Mustadi.

Adapun aplikasi Gandheng ATS ini bekerja secara sistematis melalui empat tahap implementasi berbasis EWS di lapangan dimulai dari deteksi dini dan peringatan otomatis (Early Warning), dengan memantau data kehadiran dan risiko siswa di sekolah.

Tambahnya, jika seorang murid terindikasi sering absen atau berpotensi putus sekolah, EWS secara otomatis mengirimkan notifikasi alert kepada pihak sekolah dan Dinas.

” Langkah selanjutnya melalui pemetaan akar penyebab anak tidak sekolah, mulai dari faktor ekonomi, kendala keluarga, hingga kondisi kesehatan, sehingga data terverifikasi secara presisi dan dilanjutkan dengan rujukan (intervensi terpadu) melalui instansi terkait dan monitoring evaluasi real-time.

” Atas inovasi ini, Bupati Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya, memberikan dikungannya serta berharap aplikasi ini benar – benar membawa dampak nyata dilapangan.

” Saya berharap aplikasi ini benar – benar bisa mendeteksi akar masalahnya, apakan karena ekonomi, keluarga, atau kesehatan. Kita juga harus memastikan mutu pendidikan di sekolah non formal atau PKBM sama baiknya dengan sekolah reguler,” pesan Bupati Harda Kiswaya.

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *