https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Bertemu Menko AHY, Mahasiswa Sumba Timur Bawa Suara Anak-Anak Pelosok NTT

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

JAKARTAKompassindonssianews.Com Persoalan pemerataan pembangunan dan pendidikan di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) disampaikan Sandiang Kaya Ndapa Namung, mahasiswa asal Sumba Timur, saat bertemu Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dalam pertemuan tersebut, Sandiang membawa aspirasi masyarakat terkait infrastruktur, jalan, listrik, internet, fasilitas pendidikan, dan pelayanan dasar, khususnya di wilayah pelosok Sumba Timur.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah SD Paralel Lailara di Desa Praibakul, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Sumba Timur. Sekolah berukuran sekitar 12 x 6 meter itu masih berdinding bambu, beratap seng, dan berlantai tanah. Sejumlah meja, kursi, serta papan tulis masih dipinjam dari sekolah lain, sementara sebagian fasilitas mengalami kerusakan.

Keterbatasan listrik dan internet serta belum tersedianya rumah dinas guru turut menjadi tantangan bagi proses pendidikan. Bahkan, bangunan sekolah tersebut dibangun melalui swadaya orang tua murid.

“Anak-anak di pelosok tidak boleh kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota. Mereka juga anak Indonesia, mereka juga punya mimpi dan berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar Sandiang.

Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya diukur dari besarnya proyek, tetapi dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat hingga pelosok.

“Infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik. Jalan, listrik, internet, dan sekolah adalah jalan menuju masa depan anak-anak kita,” tegasnya.

Sandiang berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTT, dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur memperkuat perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terpencil.

“Kami tidak ingin persoalan di daerah hanya menjadi cerita yang terus berulang. Harapan kami, pembangunan benar-benar hadir sampai ke pelosok, agar tidak ada anak yang merasa dilupakan hanya karena lahir dan tumbuh jauh dari pusat kota,” pungkasnya.

Sebab di balik dinding bambu dan lantai tanah itu, ada anak-anak yang sedang belajar mengejar masa depan. Mereka mungkin hidup dalam keterbatasan, tetapi mimpi mereka tidak pernah terbatas.

( Redaksi )

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *