JAKARTA – kompassindonesianews.com/ — Sehari menjelang rencana aksi penyampaian aspirasi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026), suasana Ibu Kota kembali memasuki fase yang menuntut satu hal penting: demokrasi boleh bersuara keras, tetapi persatuan jangan sampai pecah.
Polri mengajak seluruh masyarakat, khususnya peserta aksi, menjaga ketertiban, keamanan, dan persatuan. Imbauan itu disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir di Jakarta, Rabu (26/8).
Polri menegaskan bahwa menyampaikan pendapat merupakan hak warga negara. Namun, hak tersebut berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menghormati hak masyarakat lainnya.
“Polri menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi. Namun, mari kita bersama-sama memastikan penyampaian aspirasi tersebut dilakukan secara tertib, damai, dan bertanggung jawab,” ujar Isir.
Bagi Polri, perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dalam kehidupan demokrasi. Justru dari perbedaan itulah ruang dialog semestinya tumbuh.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan antarsesama anak bangsa.
“Persatuan dan kesatuan adalah modal utama bangsa. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi kepentingan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap menjadi semangat kita bersama,” kata Isir.
A. Sekitar 500 Massa Diperkirakan Hadir
Menjelang aksi, Polda Metro Jaya menyebut telah menerima sejumlah pemberitahuan kegiatan penyampaian pendapat.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto mengatakan, berdasarkan pemberitahuan yang diterima kepolisian, jumlah massa yang diperkirakan hadir di kawasan Gedung DPR/MPR RI mencapai sekitar 500 orang. Salah satu elemen yang disebut adalah Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), bersama sejumlah aliansi lainnya.
B. Konsentrasi massa diperkirakan berada di kawasan kompleks parlemen, Senayan.
Sementara itu, situasi Jakarta pada Rabu dilaporkan masih berjalan normal. Polda Metro Jaya memastikan pengamanan telah disiapkan untuk mengantisipasi kegiatan penyampaian aspirasi tersebut.
Polisi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi maupun ajakan yang berpotensi memicu tindakan merugikan kepentingan bersama.
C. DPR: Aspirasi Rakyat Akan Diterima
Dari kompleks parlemen, Ketua DPR RI Puan Maharani juga menyatakan bahwa DPR terbuka menerima aspirasi masyarakat yang hendak disampaikan dalam aksi tersebut.
Puan meminta peserta tetap menjaga ketertiban agar penyampaian pendapat berlangsung dengan baik dan tidak berubah menjadi kericuhan.
Pesan tersebut menjadi penting karena demonstrasi pada dasarnya bukan sekadar soal kerumunan manusia di jalan. Di balik poster, pengeras suara, dan tuntutan yang diteriakkan, terdapat suara warga negara yang ingin didengar oleh mereka yang memegang mandat kekuasaan.
D. Beragam Isu Akan Dibawa ke Senayan
Sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa dijadwalkan menyampaikan aspirasi dengan agenda yang berbeda. Beberapa isu yang berkembang antara lain tuntutan terkait pemberantasan korupsi, RUU Perampasan Aset, persoalan ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, hingga sejumlah kebijakan pemerintah.
Dengan beragamnya kelompok dan tuntutan, aksi 27 Agustus menjadi ruang bertemunya banyak suara. Karena itu, pengelolaan aksi secara tertib menjadi kunci agar substansi tuntutan tidak tenggelam oleh kericuhan.
Polri sendiri menyatakan akan mengedepankan pendekatan profesional dan humanis. Kepolisian ingin memastikan dua kepentingan berjalan bersamaan: warga dapat menyampaikan aspirasinya, sementara masyarakat luas tetap dapat menjalankan aktivitas dengan aman.
E. Suara Boleh Keras, Persaudaraan Jangan Retak
Demokrasi memang membutuhkan keberanian untuk berkata tidak ketika rakyat merasa ada sesuatu yang perlu dikoreksi.
Tetapi demokrasi juga membutuhkan kedewasaan untuk memahami bahwa orang yang berbeda pendapat tetaplah saudara sebangsa.
Karena itu, pesan Polri menjelang aksi 27 Agustus terasa sederhana, tetapi justru sangat fundamental: sampaikan aspirasi dengan tegas, jangan kehilangan kendali; kritis terhadap kebijakan, tetapi jangan kehilangan kemanusiaan.
Di tengah hiruk-pikuk politik dan tuntutan publik, Senayan besok bukan hanya akan menjadi tempat berkumpulnya massa. Ia akan menjadi salah satu panggung untuk melihat seberapa matang bangsa ini menjalankan demokrasi.
Sebab demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi tanpa perbedaan.
Demokrasi yang sehat adalah ketika perbedaan mampu disampaikan dengan lantang, didengar dengan lapang, lalu pulang tanpa meninggalkan luka.
Penulis:
Burhanudin Fajri
Zill Samt















