https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Nasaruddin Umar Memilih Jalan Pengabdian: Kursi Ketum PBNU Dilepas, Amanah Menag Tetap Dikawal

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

JAKARTAkompassindonesianews.com/ — Di tengah riuh Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang tengah berlangsung di Jombang, satu nama yang sebelumnya ikut menjadi perhatian akhirnya menentukan arah.

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar memastikan dirinya tidak ikut dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Alih-alih mengejar kursi tertinggi di tubuh organisasi yang membesarkannya, Nasaruddin memilih tetap berkonsentrasi menjalankan amanah sebagai Menteri Agama.

Keputusan itu disampaikan ketika dukungan dari sejumlah muktamirin dan kolega agar dirinya maju dalam bursa Ketum PBNU cukup deras.

Namun bagi Nasaruddin, ada amanah yang saat ini harus dituntaskan.

Ia menilai tanggung jawab sebagai Menteri Agama sangat luas, mulai dari pembinaan kehidupan umat beragama, penguatan kerukunan, hingga pendidikan agama dan keagamaan. Karena itu, ia memilih memberikan konsentrasi penuh kepada tugas pemerintahan.

“Yang terbaik buat saya, dan juga untuk pengembangan Kementerian Agama ke depan, lebih baik saya berkonsentrasi di Kementerian Agama, tanpa harus meninggalkan konsen saya terhadap Nahdlatul Ulama,” ujar Nasaruddin, sebagaimana dikutip dari keterangan Kementerian Agama.

A. Dukungan Datang, Tetapi Ia Memilih Tidak Bertarung

Sebelumnya, nama Nasaruddin Umar memang sempat mengemuka sebagai salah satu figur potensial dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Bahkan, beberapa waktu sebelum Muktamar, Nasaruddin mengakui mendapat dorongan dari sejumlah senior dan sahabat NU agar bersedia maju. Ia ketika itu belum pernah mendeklarasikan diri sebagai calon, tetapi membuka ruang bagi aspirasi para muktamirin.

Kini sikapnya menjadi lebih tegas: ia tidak akan ikut dalam kontestasi tersebut.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin sebelumnya juga telah memastikan bahwa Nasaruddin akan tetap menjalankan amanah Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Agama.

Menurut Kamaruddin, fokus Nasaruddin adalah meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama, memperkuat kerukunan serta mengembangkan pendidikan agama dan keagamaan.

Meski tidak maju sebagai Ketum PBNU, Nasaruddin tetap menegaskan bahwa dirinya tidak meninggalkan NU.

Berorganisasi tidak selalu harus berada di kursi paling depan. Kadang, khidmat justru tumbuh ketika seseorang bersedia tetap bekerja dari tempat yang telah diamanahkan kepadanya.

B. Bantah Isu Mundur dari Menteri Agama

Keputusan tidak maju dalam bursa Ketum PBNU juga sempat diseret ke isu lain. Sebelumnya beredar kabar bahwa Nasaruddin Umar mengundurkan diri dari jabatan Menteri Agama demi mengikuti kontestasi PBNU.

Kementerian Agama telah membantah kabar tersebut.

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar menegaskan bahwa kabar pengunduran diri Nasaruddin sebagai Menteri Agama tidak benar. Nasaruddin tetap menjalankan tugasnya sebagai Menag.

Dengan demikian, dua hal perlu dipisahkan: Nasaruddin tidak maju sebagai calon Ketum PBNU, tetapi tetap menjalankan tugas sebagai Menteri Agama.

C. Dari Bursa Ketum PBNU, Kembali ke Ruang Pengabdian

Pilihan Nasaruddin menjadi menarik karena ia bukan sekadar figur birokrat.

Ia dikenal sebagai ulama dan akademisi bidang tafsir Al-Qur’an, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Imam Besar Masjid Istiqlal. Ia juga memiliki sejarah panjang dalam NU, termasuk pernah menjadi Katib Aam Syuriyah PBNU dan pada masa khidmat 2022–2026 tercatat sebagai Rais Syuriyah PBNU.

Karena itu, keputusan tidak ikut berebut kursi Ketum PBNU bukan berarti menjauh dari NU.

Sebaliknya, Nasaruddin berharap Muktamar ke-35 NU menghasilkan kepemimpinan dan program terbaik bagi masa depan organisasi sekaligus memberi manfaat bagi bangsa.

Di tengah kontestasi yang selalu menghadirkan dinamika, keputusan Nasaruddin Umar menyuguhkan satu pesan sederhana: tidak semua pengabdian harus dimulai dari perebutan jabatan.

Ada kalanya seseorang justru menunjukkan kedewasaan dengan mengetahui kapan harus maju dan kapan harus memberi ruang.

Dan untuk saat ini, Nasaruddin memilih tetap berdiri di tempat yang telah dipercayakan kepadanya—Kementerian Agama, merawat umat, menjaga kerukunan, dan membantu Presiden menjalankan amanah negara.

Muktamar ke-35 NU sendiri berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Arena muktamar kini menjadi ruang bagi para muktamirin untuk menentukan arah kepemimpinan dan perjalanan NU pada periode berikutnya.

Dari Jombang, sebuah pilihan telah dibuat. Bukan tentang siapa yang mendapatkan kursi, tetapi tentang di mana sebuah amanah harus ditunaikan.

Penulis:
Burhanudin Fajri, S.Sos., S.Pd.
Zill Samt

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *