https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

KRI Sriwijaya Bikin Tetangga Was-Was – Tanpa Tembak Satu Peluru, Kedaulatan NKRI Harga Mati

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Palembang – KompassIndonesiaNews.Com | Kamis, 24 September 2026 Drama penamaan berakhir. Kapal yang pada 24 Agustus lalu diumumkan KSAL Laksamana Muhammad Ali sebagai KRI Gajah Mada saat berangkat dari Taranto, Italia, hari ini resmi berganti nama.

Pukul 09.00 WIB di Dermaga 107 Tanjung Priok, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengukuhkan kapal tersebut sebagai KRI Sriwijaya-100. Kapal induk pertama Indonesia setelah 80 tahun merdeka.

Siang harinya, pukul 13.00 WIB, Presiden Prabowo Subianto menerima 300 prajurit AL Italia dan Komandan ITS Carlo Bergamini F590 di Istana Negara.

Drama Nama: Gajah Mada vs Sriwijaya, Dari Mana Asalnya?

1. Gajah Mada
Mahapatih Kerajaan Majapahit dari Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, abad 13-14. Lahir dari rakyat biasa, naik menjadi Patih Amangkubhumi. Terkenal dengan Sumpah Palapa 1336: tidak akan makan palapa sebelum Nusantara bersatu. Ekspansi daratnya meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Tumasik (Singapura). Simbol persatuan daratan Nusantara.

2. Sriwijaya
Kerajaan maritim Buddha terbesar di Asia Tenggara, pusatnya di Palembang, Sumatera Selatan, abad 7-13 Masehi. Berdiri di tepi Sungai Musi, menguasai Selat Malaka, Selat Sunda dan Semenanjung Malaya. Raja terkenalnya Balaputradewa, menjadi pusat pendidikan Buddha dunia yang didatangi biksu Tiongkok I-Tsing. Menguasai jalur perdagangan emas, rempah dan sutra. Armada lautnya paling ditakuti. Runtuh abad 13 setelah diserang Chola India dan Majapahit.

Kenapa Akhirnya Dipilih Sriwijaya?
Analisis Istana: Gajah Mada itu darat, Majapahit Jawa-sentris. Sriwijaya itu laut, Palembang-sentris, relevan dengan doktrin Poros Maritim Dunia. Home base kapal induk di Teluk Ratai, Lampung, persis berada di jalur kekuasaan Sriwijaya kuno yang menjaga Selat Sunda.

Spesifikasi KRI Sriwijaya-100
Hibah senilai Rp1,1 Triliun (€54 juta) eks ITS Giuseppe Garibaldi C551. Tiba 18 September 2026 pukul 07.58 WIB setelah pelayaran 6.870 mil laut. Dimensi 180,2m x 33,4m, bobot 13.850 ton, kecepatan 30 knot, 4 turbin GE LM-2500 berdaya 81.000 HP, jelajah 7.000 mil laut. Mampu membawa 14-18 helikopter AS565 Panther + drone tempur. Komandan Kolonel Laut (P) Muhammad Fuad Hasan, AAL 2002, ex KRI REM-331, memimpin 400 personel termasuk 40 Kowal.

Analisis Komunikasi Politik
Komarudin, Alumni Stisipol Candradimuka Palembang 2013:

“Ganti Gajah Mada ke Sriwijaya itu pesan: kita kembali ke identitas asal Palembang sebagai penguasa selat. Tanpa tembak satu peluru, tetangga was-was:

AS – Malaka lepas kontrol Armada ke-7.
China – Nine Dash Line mentok di Natuna dijaga drone kapal induk.
Australia AUKUS – Darwin nuklir tapi selatan tidak lagi superior.
India – Samudra Hindia bukan halaman belakang Vikramaditya lagi.
Malaysia-Singapura – Ambalat & Malaka di bawah bayangan 13.850 ton.
Vietnam-Filipina-Thailand – Thailand tidak lagi satu-satunya, lomba senjata ASEAN dimulai.

Pagi militer, siang diplomasi. 4 Oktober 102 KRI parade. Itu kedaulatan harga mati.”

( Komarudin )

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *