https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Pasar Bela Negara Edisi ke -46, Dihadiri Oleh Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta

SLEMAN – KompassIndonesianews.com Di tengah kehidupan yang semakin terhubung secara digital, smartphone telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Berbagai informasi hadir hanya dalam hitungan detik, notifikasi terus berdatangan, dan media sosial menawarkan beragam stimulasi yang seolah tak ada habisnya.

” Namun, dibalik kemudahan itu muncul tantangan yang sering luput disadari hilangnya fokus dan waktu produktif.

Fenomena ini lah yang menjadi perhatian dalam talk show Pasar Bela Negara edisi ke -46, yang digelar di Lapangan Pemda Kabupaten Sleman, Jumat 23 Oktober 2026.

Dalam kesempatan ini, Pasar Bela Negara kedatangan tamu dari Universitas Widya Mataram Yogyakarta yang tengah mengadakan kuliah kerja administrasi publik.

Dalam talk show kali ini Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sleman mengambil tema ” Pemuda di Era Banjir Distraksi Informasi dan Stimulasi Cepat ” , diskusi ini mengajak masyarakat khususnya generasi muda, untuk kembali menata kebiasaan digital dan membangun kemampuan mengelola diri.

” Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Oktiva Anggraini, saat mengawal mahasiswanya sekaligus menjadi nara sumber talk show. Ia menyampaikan distraksi informasi merupakan gangguan yang muncul akibat terlalu banyak informasi yang diterima seseorang. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan berkonsentrasi, menentukan prioritas, hingga mengambil keputusan,” jelasnya.

Menurutnya, kebiasaan memeriksa smartphone hampir setiap menit menjadi salah satu hal yang dapat mengganggu produktivitas.

” Tanpa disadari, perhatian yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan atau belajar, justru terpecah oleh berbagai informasi yang datang silih berganti.

Harapan saya, kita menggunakan smartphone dengan baik dan bijak,” tambahnya.

Ia pun menekankan pentingnya keberanian untuk melakukan detoks digital, yakni membatasi penggunaan perangkat digital agar seseorang memiliki ruang untuk kembali fokus pada aktivitas yang lebih bermakna.

Caranya dapat dimulai dengan mengalokasikan waktu khusus untuk menggunakan smartphone, memperbanyak aktivitas fisik, serta menghidupkan kembali kebiasaan membaca buku cetak.

” Bagi Oktiva, langkah – langkah sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun keseimbangan antara kehidupan digital dan aktivitas sehari – hari. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas, tetapi penggunaannya perlu disertai kesadaran dan pengendalian diri,” tutupnya.

” Sementara itu, Pemuda Pelopor Kabupaten Sleman, Khusnul Ramadhani, menambahkan persolan distraksi digital juga berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri.

Menurut Khusnul, manajemen diri merupakan fondasi penting sebelum seseorang mampu mengelola waktu secara efektif. Ketika seseorang memahami tanggung jawab, mampu menetapkan prioritas, dan mengendalikan kebiasaannya waktu yang dimiliki dapat dimanfaatkan dengan lebih terarah.

” Menurut saya, yang penting adalah manajemen diri. Karena jika kita sudah bisa memanajemen diri kita sendiri, maka kita dapat memanajemen waktu,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa produktivitas bukan semata – mata persoalan seberapa banyak aktivitas yang dilakukan dalam sehari. Lebih dari itu, produktivitas juga ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk mengenali hal – hal yang penting dan menjaga fokus di tengah banyaknya ganguan.

Lanjutnya, bagi generasi muda tantangan ini semakin relevan. Kemudian memperoleh informasi perlu diimbangi dengan kecakapan memilah informasi, mengatur waktu, dan menentukan prioritas.

Tanpa pengelolaan diri yang baik, teknologi yang semestinya membantu justru berpotensi mengalihkan perhatian diri tujuan yang ingin di capai,” kata.

” Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Ketahanan Nasional Badang Kesbangpol Kabupaten Sleman, Dwijo Anggono, menerangkan bahwa Pasar Bela Negara ini merupakan program yang diinisiasi oleh Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Carya Budhi Chantya.

Kegiatan Pasar Bela Negara ini rutin kami selenggarakan setiap Jumat pagi di sisi utara Lapangan Pemda Sleman. Selain menjadi ruang pertemuan masyarakat, Pasar Bela Negara juga menghadirkan beragam dialog dan edukasi yang relevan dengan kehidupan sosial serta kebangsaan.

Pada edisi ke -46 ini, kami menghadirkan saudari Khusnul Ramadhani, dia sebagai Pemuda Pelopor Kabupaten Sleman. Dia sengaja kami hadirkan sebagai nara sumber tersebut menjadi relevan, karena kegiatan PBN berlangsung menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2026.

” Momentum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mengajak generasi muda merefleksikan peran mereka di tengah perubahan zaman. Semangat kepemudaan tidak hanya di wujudkan melalui gagasan besar dan aktivitas sosial, tetapi juga melalui kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan mengelola diri dalam kehidupan sehari – hari.

” Di tengah derasnya arus informasi, pemuda dituntut bukan sekadar menjadi pengguna teknologi yang aktif, melainkan juga pribadi yang mampu berpikir kritis, menjaga fokus, dan mengambil keputusan secara bijak.

Pada akhirnya, menghadapi banjir informasi tidak selalu berarti harus menjauh sepenuhnya dari teknologi. Tantangan sesungguhnya adalah belajar menempatkan teknologi sesuai kebutuhan, bukan membiarkan perhatian dan waktu sepenuhnya di kendalikan olehnya.

Tutup Anggono, dari Pasar Bela Negara Kabupaten Sleman ini, pesan sederhana itu kembali digaungkan pemuda yang tangguh bukan hanya mereka yang mampu mengikuti cepatnya perubahan zaman, tetapi juga mereka yang mampu mengendalikan diri, mengelola waktu, dan tetap produktif di tengah segala distraksi,” beber Anggono.

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *