PALEMBANG, Kompassindonesianews – Tumpukan sampah plastik di lingkungan sekolah mendorong siswa dan guru SMK Negeri 4 Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, mencari solusi melalui inovasi. Mereka mengembangkan alat pengolah limbah plastik menjadi bahan bakar melalui proses pirolisis.
Inovasi tersebut dipamerkan dalam kegiatan Lomba dan Pameran Inovasi Produk serta Kreativitas Siswa SMK Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2026 di Hotel Emilia, Palembang, Senin (26/10/2026). Kegiatan bertema “SMK Inovasi, Karya Nyata, dan Solusi Bangsa” ini menjadi ruang bagi siswa SMK untuk menunjukkan hasil karya yang berpotensi menjawab persoalan di masyarakat.
Alat pirolisis karya SMKN 4 OKU tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang dihadapi sekolah, yakni banyaknya sampah plastik dari aktivitas kantin. Sampah yang sebelumnya hanya dibakar tanpa memberikan manfaat ekonomi itu kemudian menjadi bahan eksperimen untuk menghasilkan produk yang lebih berguna.
Guru Teknik Kendaraan Ringan SMKN 4 OKU, Reza Dwi Pangestu, mengatakan, gagasan tersebut mulai dipikirkan sejak awal 2023. Pihak sekolah melihat perlunya upaya mengelola sampah agar tidak sekadar dibakar dan mencemari lingkungan.
“Awalnya, kami melihat terlalu banyak sampah dari kantin sekolah. Kami berpikir bagaimana sampah organik dan anorganik bisa dimanfaatkan agar lebih bermanfaat. Khusus sampah plastik, kami mencoba mengolahnya menjadi bahan bakar melalui proses pirolisis,” kata Reza.
Menurut dia, proses pengolahan diawali dengan membersihkan dan mencacah sampah plastik. Bahan tersebut kemudian dipanaskan di dalam tabung hingga menghasilkan uap yang dialirkan menuju perangkat pendingin atau kondensor. Uap yang mengalami pendinginan selanjutnya mengembun menjadi cairan yang dapat diolah lebih lanjut.
Reza menjelaskan, hasil pengolahan dapat berupa cairan bahan bakar dengan karakteristik berbeda, bergantung pada bahan baku dan proses penyulingannya. Namun, untuk memastikan jenis, kualitas, serta kelayakan penggunaannya, hasil tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
Alat yang digunakan juga dirancang dengan memanfaatkan sejumlah bahan bekas, seperti tabung dari kompresor, pipa besi, dan kaleng bekas sebagai bagian dari sistem pendinginan. Pemanfaatan bahan tersebut membuat inovasi ini sekaligus menunjukkan upaya memanfaatkan kembali barang yang sudah tidak terpakai.
Reza menambahkan, jumlah dan efektivitas perangkat pendingin turut memengaruhi proses pengembunan. Adapun kualitas hasil pengolahan perlu diperiksa melalui pengujian laboratorium, termasuk untuk mengetahui karakteristik bahan bakar dan angka oktannya.
*Berharap Dukungan untuk Pengembangan
Pemimpin pembelajaran atau perwakilan tim inovasi SMKN 4 OKU, Iswahyudi, mengatakan, alat pirolisis tersebut merupakan hasil kerja sama guru dan tim inovasi sekolah dalam merespons persoalan sampah plastik.
Menurut Iswahyudi, pengembangan alat masih menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama kapasitas pengolahan yang relatif kecil dan belum tersedianya alat pengukur angka oktan untuk menguji kualitas hasil produksi.
“Kami membawa alat pengolahan limbah plastik atau pirolisis. Awalnya, kami menghadapi persoalan banyaknya sampah plastik di sekolah. Bersama tim inovasi, kami mencoba mencari jalan keluar melalui alat ini,” ujarnya.
Ia berharap dukungan dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, pemerintah daerah, serta berbagai instansi terkait dapat membantu pengembangan teknologi tersebut. Dukungan itu diperlukan untuk meningkatkan kapasitas alat, menyempurnakan sistem pengolahan, dan melakukan pengujian terhadap hasil produksinya.
“Kalau ada dukungan pemerintah, insya Allah alat ini bisa kami kembangkan semaksimal mungkin. Kapasitas alat yang sekarang masih kecil. Kami berharap nantinya bisa membuat alat yang lebih besar sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” kata Iswahyudi.
Ia menilai, pengembangan teknologi pengolahan sampah seperti ini dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian lingkungan sekaligus meningkatkan keterampilan siswa SMK. Melalui inovasi tersebut, siswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga berlatih merancang teknologi berdasarkan persoalan nyata di sekitarnya.
Meski demikian, ia menyadari bahwa pemanfaatan hasil pirolisis sebagai bahan bakar untuk masyarakat membutuhkan pengembangan dan pengujian lebih lanjut. Hasil pengolahan tidak dapat langsung dianggap setara dengan bahan bakar kendaraan yang memenuhi standar sebelum kualitas dan keamanannya dipastikan.
Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten OKU, Lukman, S.Pd., M.Pd., menyambut positif keikutsertaan SMKN 4 OKU dalam kegiatan inovasi dan kreativitas pelajar SMK tingkat Provinsi Sumatera Selatan tersebut.
Menurut Lukman, kegiatan lomba dan pameran menjadi kesempatan bagi sekolah untuk memperkenalkan karya siswa sekaligus mendorong lahirnya gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami dari MKKS SMK Kabupaten OKU siap menyukseskan kegiatan inovasi dan kreativitas pelajar SMK. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan agar kreativitas siswa dapat terus berkembang,” ujarnya.
Ia berharap karya-karya yang ditampilkan tidak berhenti pada kegiatan pameran, tetapi memperoleh pendampingan dan kesempatan untuk dikembangkan lebih lanjut.
Inovasi pirolisis SMKN 4 OKU menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan sampah di lingkungan sekolah dapat mendorong lahirnya gagasan teknologi. Dengan dukungan pembinaan, penyempurnaan alat, serta pengujian yang memadai, karya siswa SMK diharapkan dapat berkembang menjadi solusi pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat.
(Fadiel)














