SLEMAN – KompassIndonesianews.com Pemulihan penyintas stroke membutuhkan pendampingan berkelanjutan, bahkan setelah pasien meninggalkan rumah sakit. Dukungan tersebut diperlukan agar penyintas memperoleh informasi kesehatan yang tepat dan dapat kembali beraktivitas secara mandiri.
” Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, RS PKU Muhammadiyah Gamping, Kabupaten Sleman, meresmikan Komunitas Keluarga Sehat Tangguh Stroke (Kestro) bertempat di Aula Masjid KH.Sudja, kompleks RS PKU Muhammadiyah Gamping, Kamis 29 Oktober 2026.
” Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gamping, dr. Ahmad Faesol, Sp.,Rad.,M.,Kes.,MMM, menjelaskan penanganan stroke tidak cukup berhenti pada fase kegawatdaruratan di rumah sakit,” jelasnya.
Penyintas masih membutuhkan dukungan selama menjalani pemulihan setelah perawatan.
Ia menyebut, keberhasilan penanganan stroke tidak hanya ditentukan oleh pelayanan di rumah sakit, tetapi juga keberlangsungan perawatan setelah pasien pulang,” tambahnya.
Melalui Kestro, rumah sakit menyediakan wadah bagi penyintas dan keluarga untuk memperoleh edukasi kesehatan, berbagai pengalaman, serta berkomunikasi dengan tenaga kesehatan.
Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gamping berharap, komunitas ini membantu penyintas dan keluarga mendapatkan informasi yang tepat selama proses pemulihan.
” Kami berharap, komunitas ini menjadi tempat berbagai pengalaman, mendapatkan edukasi yang akurat, sekaligus mempererat silaturahmi antara penyintas dan tenaga kesehatan.
” Lanjut Ahmad, peresmian Kestro ini bertepatan dengan peringatan Hari Stroke Sedunia. Kegiatan tersebut juga diisi pembacaan puisi oleh pendamping penyintas stroke, pembacaan Hari Stroke Sedunia oleh Yastroki DIY, serta diskusi kesehatan dan penampilan grup angklung.
” Sementara itu, Ketua I Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) DIY, Akhmad Risaf Iskandar, memaparkan pentingnya edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko dan penanganan stroke, termasuk pada kelompok usia muda. Menurutnya, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
” Edukasi tentang stroke harus menjadi pembelajaran sosial bagi masyarakat, mari kita gerakkan upaya bersama melawan stroke agar masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan,” tutupnya.
” Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Kestro RS PKU Muhammadiyah Gamping, Tri Amin Lestari, mengatakan komunitas tersebut dibentuk agar penyintas tidak menjalani proses pemulihan sendiri. Selain menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan, Kestro diharapkan membantu penyintas memperoleh informasi medis yang terpecaya dan tetap menjalani kehidupan secara mandiri.
” Stroke bukan akhir segalanya, melainkan awal babak baru perjuangan. Melalui komunitas ini, kami ingin memastikan penyintas memiliki ruang untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama,” kata Tri Amin.
(Joni)














