BENGKALIS –kompassindonesianews.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkalis terus menunjukkan keseriusannya dalam membina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kali ini, komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bengkalis, Kamis (28/08) pagi.
Acara yang berlangsung di Aula Lapas Bengkalis ini dihadiri langsung oleh Kepala Lapas, Kriston Napitupulu, bersama jajaran, serta Kepala Kantor Kemenag Bengkalis, Drs. H. Khaidir, didampingi pejabat struktural dan penyuluh agama dari berbagai keyakinan. Kehadiran tokoh agama, Forkopimda, hingga mitra strategis Lapas menambah khidmatnya suasana.
Dalam sambutannya, Kriston menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi langkah penting menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan kelebihan kapasitas hunian.
“Di tengah keterbatasan, kami berusaha mencari peluang. Dengan kolaborasi bersama Kemenag, pembinaan kerohanian di Lapas tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menyentuh aspek moral dan spiritual, agar warga binaan bisa benar-benar berubah,” tegasnya.
Adapun ruang lingkup MoU mencakup berbagai kegiatan keagamaan lintas agama, mulai dari ceramah, pengajian, pendalaman kitab suci, hingga pembinaan seni budaya keagamaan. Program ini dirancang agar pembinaan lebih terstruktur, inklusif, dan berkesinambungan.
Sementara itu, Kepala Kemenag Bengkalis, H. Khaidir, menekankan bahwa pembinaan keagamaan harus diberikan secara adil tanpa diskriminasi.
“Warga binaan tetaplah manusia yang sama derajatnya. Tugas kami memastikan mereka mendapatkan layanan keagamaan yang layak, sehingga ilmu agama tidak hanya dipahami secara teknis, tetapi juga dimaknai dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, Kemenag turut menyerahkan mushaf Al-Qur’an dan perlengkapan tulis untuk menunjang kegiatan kerohanian di Lapas. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Kalapas Kriston.
Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama yang merepresentasikan semangat kolaborasi lintas sektor. Kehangatan tersebut menjadi simbol nyata komitmen bersama dalam membangun jalan perubahan bagi warga binaan, agar kelak kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik.
Penulis Harry Warisman















