https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Setelah Dua Tahun Konflik, Hamas dan Israel Akhiri Perang Lewat Jalur Diplomasi

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kompassindenesianews.com Gaza, 19 Oktober 2025Setelah melalui proses negosiasi panjang yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, Hamas akhirnya menyetujui proposal gencatan senjata yang menandai berakhirnya perang dua tahun di Jalur Gaza.
Kesepakatan tersebut diumumkan secara resmi pada pukul 18.00 waktu Gaza atau 22.00 WIB, dan disambut sebagai langkah diplomatik bersejarah menuju perdamaian kawasan.

Dalam konferensi pers di Gaza City, Khalil al-Hayya, perwakilan senior Hamas, menyatakan bahwa pihaknya menerima jaminan internasional terkait penghentian total operasi militer Israel serta pembukaan akses bantuan kemanusiaan secara berkelanjutan ke wilayah Gaza.
“Kami menerima kesepakatan ini demi menjaga nyawa rakyat kami dan memberi ruang bagi masa depan yang lebih damai,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, menegaskan bahwa Tel Aviv mengakui kesepakatan tersebut sebagai langkah menuju keamanan bersama. Namun, ia menekankan bahwa implementasi penuh akan bergantung pada pelucutan senjata dan penghentian aktivitas militer Hamas.
Pemerintah Israel juga memastikan bahwa seluruh operasi ofensif di Gaza akan dihentikan secara bertahap sesuai dengan tahapan yang disepakati.

Mediator dari Mesir dan Qatar menyampaikan apresiasi atas komitmen kedua pihak untuk mematuhi perjanjian tersebut. Mereka menilai kesepakatan ini sebagai tonggak diplomatik penting yang menunjukkan bahwa diplomasi dan tekanan internasional mampu mengakhiri siklus kekerasan yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil.

Kesepakatan gencatan senjata tersebut mencakup tiga fase utama:

1. Penghentian operasi militer sepenuhnya di Jalur Gaza.

2. Pertukaran tahanan dan sandera di bawah pengawasan lembaga internasional.

3. Rekonstruksi Gaza dengan dukungan dan pemantauan dari badan-badan PBB.

Dari Washington, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyampaikan komitmennya untuk memantau dan mendukung penuh pelaksanaan kesepakatan ini. “Kami akan memastikan proses ini berlangsung transparan dan berkelanjutan demi perdamaian yang langgeng,” demikian pernyataan resminya.

Masyarakat internasional menyambut positif langkah tersebut. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan bahwa akhir dari perang di Gaza bukanlah akhir dari perjuangan untuk perdamaian, melainkan awal dari babak baru tanggung jawab bersama untuk membangun kembali kehidupan dan kepercayaan.

Dengan diumumkannya gencatan senjata pada 19 Oktober 2025, perang dua tahun antara Hamas dan Israel resmi berakhir. Dunia kini menatap harapan baru bagi rekonstruksi, pemulihan kemanusiaan, dan  perdamaian berkelanjutan  di jalur gaza

KOMARUDIN

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *