Kompassindonesianews.com
5 Desember 2025
Kerja sama antariksa Indonesia–Rusia yang kembali menghangat pada era Presiden Prabowo Subianto bukanlah sekadar proyek teknologi. Di tingkat intelijen, kolaborasi ini membuka babak baru dalam pertarungan pengaruh di Pasifik—di mana nama Vladimir Putin dan kepentingan strategis Rusia kembali menembus orbit Asia Tenggara.

Perjanjian Kunci Prabowo–Putin: Kronologi yang Jarang Dibuka Publik
Meski sebagian besar dokumennya dikemas dalam bingkai diplomasi, kanal intelijen mencatat tiga momentum formal yang membentuk struktur kerja sama Indonesia–Rusia saat ini:
28 Januari 2020 — Moskow
Pertemuan bilateral Menhan Prabowo Subianto dengan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu.
Agenda resmi: kerja sama industri pertahanan, ruang angkasa, dan peningkatan kapasitas teknologi dual-use.
Catatan intelijen: mulai dibahas ketertarikan Rusia untuk memanfaatkan Biak sebagai lokasi peluncuran.
16 Juni 2021 — Perjanjian Teknis Antariksa (BRIN–Roscosmos)
Penandatanganan MoU di forum virtual:
pertukaran teknologi roket,
pengembangan satelit observasi,
rencana akses fasilitas peluncuran di Biak dan Morotai.
Catatan intelijen: Rusia meminta klausul “akses eksklusif terbatas”. Indonesia menolak.
3) 6 November 2024 — Pertemuan Prabowo–Putin di Astana
Pertama kali pertemuan tatap muka setelah Prabowo terpilih.
Topik sensitif yang dibahas tertutup:
fasilitasi pembangunan Launch Complex Rusia–Indonesia,
penyediaan mesin roket kelas menengah,
dukungan Rusia pada program satelit militer Indonesia 2027–2032.
Intelijen kawasan menyebut pertemuan ini sebagai “re-entry Rusia ke Pasifik melalui Indonesia”.
Biak & Morotai: Dua Titik Panas yang Dipantau Intelijen Asing
Kedua pulau ini kini muncul dalam laporan intelijen Australia, Amerika, Jepang, dan Prancis.
Alasan utama:
berada di garis khatulistiwa → efisiensi peluncuran roket 20–30%,
menghadap Samudra Pasifik → akses sensor satelit lebih luas,
dekat jalur militer US–Australia di Pasifik Barat.
Biaya Pembangunan (Estimasi Konsorsium RI–Rusia):
Biak: Rp 18,7 triliun
Morotai: Rp 6,4 triliun
Total: Rp 25,1 triliun (tahap 2026–2032)
Angka ini tidak pernah dibuka resmi pemerintah, namun beredar dalam dokumen feasibility yang dibaca jaringan pertahanan asing.
Negara yang Mencurigai
Australia
Menganggap fasilitas Biak berpotensi menjadi “node Russia’s Pacific ISR Network”.
Kekhawatiran utama: kemungkinan lintasan satelit Rusia mengarah ke Darwin dan Pine Gap.
Amerika Serikat
Melihat MoU 2021 dan pembaruan 2024 sebagai ancaman terhadap dominasi Pasifik.
Washington mengirim beberapa “security queries” ke Jakarta.
Jepang
Membaca Biak sebagai bagian dari pola logistik Rusia terkait sengketa Kuril–Pasifik.
Tokyo curiga Rusia membangun jalur operasi baru.
Prancis & Uni Eropa
Khawatir Indonesia bergeser dari orbit teknologi Eropa (Thales, Airbus) menuju Rusia.
Negara yang Mendukung
Rusia
Ingin menancapkan kembali pengaruh setelah terdesak di Eropa.
Putin melihat Indonesia sebagai “pivot partner” terbesar di Asia Tenggara.
Tiongkok
Mendukung diam-diam.
Kerja sama RI–Rusia dianggap melemahkan dominasi AS di Pasifik dan membuka peluang sinergi dengan program stasiun bulan Tiongkok 2035.
India
Melihat peluang pembagian payload, navigasi, dan teknologi observasi.
Ilmuwan Indonesia Era 1980-an: Akar Ambisi yang Terputus
Sebelum berbicara soal satelit militer 2027 atau kompleks peluncuran Biak-Morotai, ada bab sejarah yang menentukan kenapa Indonesia hari ini melangkah dengan keterbatasan struktural.
Pada 1980-an, Indonesia sebenarnya hampir memiliki dua astronot/ilmuwan ruang angkasa pertama:
Dr. Pratiwi Sudarmono — Payload Specialist utama STS-61-H (1986)
Ilmuwan biologi molekuler yang dipilih NASA untuk misi pesawat ulang-alik Challenger bersama peluncuran satelit Palapa-B3.
Pratiwi menjalani pelatihan intensif, menjadikan Indonesia satu dari sedikit negara berkembang yang punya calon astronot aktif.
Taufik Akbar — Cadangan Payload Specialist
Insinyur telekomunikasi senior proyek Palapa.
Diproyeksikan mengikuti misi lanjutan setelah Pratiwi.
Namun semua terhenti pada 28 Januari 1986, ketika Challenger meledak.
Misi STS-61-H dibatalkan. Indonesia kehilangan momentum emas yang seharusnya menjadi landasan generasi ilmuwan antariksa.
Kegagalan Indonesia bukan hanya karena kecelakaan NASA, tetapi karena negara tidak membangun program penerus:
tidak ada sekolah astronaut,
tidak ada regenerasi,
tidak ada industri roket dalam negeri.
Akibatnya, pada era 2000–2020, Indonesia selalu “menumpang” teknologi asing—dari satelit, peluncuran, hingga observasi orbit.
Warisan kosong inilah yang kini coba diisi kembali oleh Prabowo melalui kerja sama Rusia.
Satelit Mata-Mata Indonesia: Roadmap Senyap yang Dipantau Intelijen
Dokumen yang dibaca komunitas intelijen menyebut adanya roadmap rahasia:
2027 — Satelit Pengintaian Optik-1
Resolusi: 30–50 cm
Konsorsium: Indonesia–Rusia (sensor & propulsi)
2029 — Satelit Radar SAR
Kemampuan: menembus awan/hujan
Vendor: Airbus/Thales atau opsi Rusia
2032 — Satelit Intelijen GEO (SIGINT)
Kemampuan: intercept komunikasi strategis
Inilah yang membuat Washington & Canberra ekstra sensitif.
SATRIA dan Jejak Ketergantungan
SATRIA-1 (18–19 Juni 2023, Cape Canaveral, roket Falcon 9) dicatat intelijen sebagai bukti bahwa Indonesia masih berada di orbit teknologi Barat.
Proyek ini tidak bermasalah secara politik, namun tidak menghasilkan kedaulatan teknologi.
Di era Jokowi, Indonesia memiliki satelit, tetapi tidak memiliki kemampuan peluncuran.
Di era Prabowo, kemampuan itu ingin dikejar melalui Rusia—namun membawa risiko strategis baru.
Indonesia di Persimpangan Orbit
1. Kerja sama Prabowo–Putin membuka peluang teknologi terbesar sejak era LAPAN 1980-an.
2. Namun infrastruktur Biak–Morotai menjadikan Indonesia zona kompetisi baru antara Rusia, AS, Jepang, dan Australia.
3. Satelit militer Indonesia diproyeksikan naik kelas cepat, tapi juga menambah sensitivitas geopolitik.
4. Risiko ketergantungan pada Rusia nyata, terutama dalam mesin roket dan sensor satelit.
5. Minimnya transparansi publik dapat menciptakan celah politik dan keamanan jangka panjang.
Indonesia ingin menjadi bangsa luar angkasa.
Tantangannya: jangan sampai meluncur tinggi, tetapi masuk orbit negara lain.
(Komarudin)















