Jakarta – kompassindonesianews.com/ — Dari Jakarta ke laut selat Sunda, jarak sering kali diukur dengan mil. Tetapi bagi keluarga delapan orang yang hilang di Selat Sunda, jarak itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih panjang: jarak antara harapan dan kepastian.
Pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau terus berlanjut. Memasuki hari keempat operasi pada 11 September 2026, BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) ikut turun memperkuat pencarian bersama tim SAR gabungan di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan dan Pemberdayaan, H. Idy Muzayyad, mengatakan keterlibatan BTB merupakan bagian dari respons kemanusiaan untuk membantu proses pencarian sekaligus mendukung keselamatan personel yang bekerja di lapangan.
Menurut Idy, BAZNAS akan terus mendukung operasi tersebut hingga proses pencarian memperoleh hasil. Harapan mereka satu: seluruh rombongan dapat ditemukan secepatnya dan, yang paling utama, dalam keadaan selamat.
A. Dari Tim Kemanusiaan ke Tengah Operasi SAR
BAZNAS Tanggap Bencana bukan sekadar hadir di posko.
Sebelumnya, BTB Banten telah melakukan asesmen lokasi dan berkoordinasi dengan Posko Operasi SAR Nasional, Polres Pandeglang, BPBD Pandeglang, SAR Provinsi Banten, Polda Banten, serta Desk Relawan Banten. Kehadiran mereka menjadi bagian dari sinergi lintas lembaga dalam operasi pencarian.
Anggota BTB yang berada di lapangan, Feka, melaporkan bahwa pada hari keempat pencarian, tim BTB bergabung bersama Basarnas di kapal KRI 247 untuk ikut melakukan penyisiran. Ia meminta doa agar operasi berjalan lancar dan seluruh petugas diberikan kesehatan selama berada di tengah kondisi lapangan yang tidak mudah.
Pencarian itu dilakukan bukan dalam ruang kosong. Gunung Anak Krakatau masih aktif dan kondisi perairan Selat Sunda terus menjadi faktor yang diperhitungkan dalam menentukan pola operasi. Tim SAR harus menyesuaikan penyisiran dengan cuaca, arus laut, arah angin, jarak pandang, serta tingkat keamanan di sekitar kawasan gunung api.
B. Delapan Nama yang Masih Dinanti Pulang
Rombongan tersebut berangkat dari wilayah Carita pada Senin, 7 September 2026, untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Lima jurnalis yang berada di dalam kapal adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni sebagai jurnalis lepas. Bersama mereka terdapat tiga orang awak kapal, yakni kapten Warta, ABK Surakman, dan pemandu Heriyanto.
Sebelum komunikasi terputus, masih sempat ada jejak yang menjadi pegangan pencarian. Bagus diketahui sempat mengirimkan lokasi kepada rekan di Lampung, sedangkan Heriyanto juga masih mengirimkan foto dari kawasan sekitar Anak Krakatau beberapa jam kemudian.
Setelah itu, tidak ada lagi komunikasi yang dapat memastikan posisi mereka.
Hingga pembaruan terbaru pada Sabtu, 12 September 2026, keberadaan delapan orang tersebut belum diketahui.
C. Pencarian Meluas hingga Samudra Hindia
Tim SAR tidak lagi membatasi pencarian hanya di lingkar terdekat Anak Krakatau.
Memasuki hari kelima, area operasi diperlebar menjadi sekitar 4.512 mil laut persegi yang dibagi ke dalam enam sektor. Penyisiran menjangkau gugusan kepulauan Krakatau, perairan Lampung, hingga mengarah ke wilayah Samudra Hindia. Sebanyak 13 unsur atau alutsista laut dikerahkan untuk memperluas cakupan operasi.
Perluasan wilayah ini dilakukan berdasarkan analisis kemungkinan pergerakan objek atau korban mengikuti dinamika arus laut.
Di sisi lain, pencarian melalui udara dan penyisiran sejumlah pulau tetap berjalan. Tim SAR juga masih menerima berbagai informasi dari masyarakat, tetapi sejauh ini belum ada informasi valid mengenai adanya orang yang ditemukan atau terdampar yang dapat dikaitkan dengan rombongan tersebut.
D. Pelampung Ditemukan, Tetapi Bukan Milik Arupadhatu 1
Dalam operasi sebelumnya, tim menemukan sebuah life jacket berwarna oranye dan buoy atau pelampung berbentuk tabung.
Temuan tersebut sempat menjadi secercah harapan. Namun setelah dilakukan identifikasi, pihak terkait memastikan perlengkapan tersebut bukan bagian dari peralatan keselamatan kapal Arupadhatu 1 yang membawa rombongan jurnalis. Karena itu, benda tersebut tidak dapat dijadikan petunjuk langsung mengenai keberadaan delapan orang yang dicari.
Di lapangan, pencarian tetap berjalan meski hasilnya belum sesuai harapan.
E. Ketika Jurnalis Menjadi Berita
Ada ironi yang terasa dalam kisah ini.
Lima jurnalis tersebut berangkat untuk mencari berita tentang gunung api yang sedang aktif. Mereka membawa kamera dan menjalankan pekerjaan sebagaimana biasanya: mendekati peristiwa, melihat dari dekat, kemudian menyampaikan apa yang mereka lihat kepada masyarakat.
Kini justru nama mereka yang menjadi berita.
Ruang redaksi menunggu.
Keluarga menunggu.
Rekan-rekan seprofesi berdoa.
Pewarta Foto Indonesia bersama komunitas jurnalis di berbagai daerah juga menggelar doa bersama sebagai bentuk solidaritas untuk kelima jurnalis yang masih dicari. Di Jakarta, Yogyakarta, hingga Malang, doa dipanjatkan agar operasi SAR membuahkan hasil dan mereka segera dipertemukan kembali dengan keluarga.
BAZNAS pun memilih berada di sisi pencarian itu—bukan sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar kemanusiaan.
Sebab ketika sebuah keluarga belum memperoleh kabar, setiap kapal yang bergerak ke laut membawa satu kemungkinan.
Ketika satu pulau disisir, ada satu harapan baru.
Dan ketika matahari kembali tenggelam di Selat Sunda, doa-doa tetap belum berhenti.
Delapan orang belum ditemukan. Laut belum mengembalikan mereka. Tetapi pencarian masih bergerak, dan harapan masih dijaga.
Semoga pada ujung operasi ini, yang datang bukan sekadar jawaban atas sebuah misteri, melainkan kabar baik tentang delapan manusia yang akhirnya pulang.
Jurnalis:
Burhanudin Fajri















