Kabupaten Sleman – KompassIndonesianews.com Pergelaran lomba burung berkicau di Jogja Bird Arena, kompleks Monumen Jogja Kembali (Monjali), Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Minggu (5/4/2026) kembali digelar setelah vakum selama kurang lebih 15 tahun, gantangan burung di kawasan Monumen Jogja Kembali, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, resmi dihidupkan kembali dengan konsep yang lebih modern dan kolaboratif.
Kegiatan lomba burung berkicau ini, disambut antusias oleh para pencita burung berkicau atau kicau mania dari berbagai daerah. Pembukaan kembali gantangan ini, menjadi bagian dari upaya menghidupkan ruang kreativitas komunitas sekaligus mendorong pergerakan ekonomi berbasis hobi di kawasan Monjali.

” Ketua penyelenggara kegiatan lomba burung berkicau, Agung Seturan, mengatakan bahwa inisiatif ini berangkat dari kecintaan terhadap dunia burung berkicau yang telah ia tekuni sejak lama,” tuturnya. Kami ingin menghidupkan dan menggerakkan kembali gantangan ini bersama pengelola Monjali, supaya bisa dimanfaatkan oleh kicau mania di Yogyakarta,” tambahnya.
Agung menambahkan loba burung berkicau ini tidak hanya diikuti peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta saja, gelaran perdana ini juga menarik perhatian pehobi burung dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Solo.
Lanjutnya, kehadiran kembali para pehobi lama menjadi bukti kuat bahwa komunitas kicau mania tetap solid meskipun terhenti cukup lama.” Kami melihat pada hari banyak wajah lama yang datang, ini menunjukkan silaturahmi komunitas tetap terjaga.
Lebih lanjut, ia menambahkan ke depan gantangan Monjali diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan rutin bagi komunitas burung berkicau. Dan dalam waktu dekat, lokasi ini juga dijadwalkan akan digunakan oleh Pelestari Burung Indonesia (PBI) serta sejumlah event organizer lainnya. Harapannya kegiatan ini bisa berkesinambungan, setelah ini akan ada agenda dari PBI lalu EO lain. Dan nanti kita juga ingin menghidupkan kembali latihan rutin seperti dulu,” ungkapnya.
Agung juga mengatakan dengan di aktifkannya kembali gantangan di Monjali, ekosisten hobi burung berkicau di Yogyakarta diharapkan semakin berkembang dan menjadi daya tarik baru di kawasan Monjali ini. Selain lomba berung, agenda ini sekaligus Grand Launching Jogja Bird Arena,” tutup Agung.
” Gelaran lomba burung berkicau di Jogja Bird Arena komplek Monumen Jogja Kemabali ini, tidak hanya menyedot perhatian warga lokal, tetapi juga menarik minat wisatawan mancanegara asal Denmark. Ia mengaku terpukau dengan budaya lomba burung di Indonesia, yang menurutnya unik dan tidak ditemui di negaranya.
Thomas, mengatakan ini, merupakan pengalaman pertamanya menyaksikan kompetisi burung secara langsung. Ia terkesan dengan suasana arena yang ramai, serta ratusan burung yang saling bersaing melalui kicauan merdu.” Ini pertama kalinya saya melihat lomba seperti ini, sangat menarik dan berbeda.
Menurutnya, meski masyarakat di Denmark juga memelihara burung sebagai hewan peliharaan, konsep kompetisi burung berkicau seperti di Indonesia tidak dikenal. Di Denmark, orang – orang memelihara burung di rumah, tetapi tidak ada kompetisi seperti ini.
Selain itu, Thomas juga mengaku kagum dengan keanekaragaman jenis burung yang ada di Indonesia,” ungkapanya.
” Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Museum Munumen Jogja Kemabali, Yudi Pranowo, menambahkan kegiatan ini sangat membanggakan. Karena kawasan Museum Monumen Jogja Kemabali menjadi lebih ramai dikunjungi orang. Kami memberikan kesempatan bagi komunitas, baik dari komunitas mancing, komunitas bongsai, maupun komunitas burung berkicau untuk bisa berkumpul bersama.
Yudi, mengatakan wahana baru kita selain Jogja Bird Arena, kami juga membuka spot memancing ikan di kolam Monjali ini. Namun, khusus untuk memancing kami buka hanya pada hari tertentu yakni hari Sabtu, Minggu, dan hari libur saja.
Pengunjung yang ingin mencoba spot mancing bisa dengan menunjukkan tiket masuk Museum, seharga, Rp.15.000 sudah bisa mendapatkan ikan setengah kulogram gratis yang pertama. Sedangkan untuk perkilogram berikutnya nanti bisa di timbang dengan membayar Rp.20.000 perkilogram ikan.
” Kami memberikan kesempatan bagi pemacing tidak hanya memancing saja, kami juga menyediakan fasilitas lainnya seperti menyaksikan koleksi Museum Monumen Jogja Kembali, sesuai misi, visi, kami untuk dapat melestarikan sejarah perjuangan bangsa ini,” pungkasnya.(Joni)














