https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Warisan Budaya Tetap Hidup, Tradisi Walimatul Hamil Anissa Billah Meriahkan Lemahabang Cirebon

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

CIREBONKompassindonesianews.com Suasana penuh syukur, kebahagiaan, dan nuansa adat budaya mewarnai pelaksanaan acara tujuh bulanan (Walimatul Hamil) putri pertama pasangan Anissa Billah dan Jeri yang berlangsung pada Minggu siang ba’da Dzuhur hingga selesai, 7 Juni 2026.

Acara yang digelar di Desa Tuk Karangsuwung, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat tersebut berjalan lancar, khidmat, dan mendapat antusiasme tinggi dari keluarga besar serta masyarakat sekitar.

Anissa Billah merupakan buah hati dari pasangan Sanusi Bin Sa’ad dan Nia Kurniasih. Tradisi tujuh bulanan yang telah diwariskan secara turun-temurun ini diawali dengan pembacaan sholawat dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustad Ali selaku pimpinan Majelis Dzikir dan Ta’lim Baitul Makmur Desa Tuk Karangsuwung.

Hadir dalam kegiatan tersebut keluarga besar dari pihak Sanusi Bin Sa’ad, di antaranya kakak tertua Munadi Kadra, kakak nomor tiga Masiah beserta keluarga, serta kerabat dari pihak Nia Kurniasih. Turut hadir Ketua Pemuda Desa Tuk Karangsuwung Zarif Bin Muri, para pemuda-pemudi, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang ikut memeriahkan acara.

Prosesi adat menjadi bagian paling menarik dalam rangkaian acara. Pemandian calon ibu bersama suami dan jabang bayi dilakukan di dalam kurungan adat yang dihias kain warna-warni, bunga-bungaan, uang, serta buah nanas yang dipasang di bagian atas tenda. Bentuk tenda yang menyerupai kubah masjid menambah kesan sakral dan penuh filosofi.

Setelah prosesi pemandian selesai, acara dilanjutkan dengan tradisi saweran dan cemang cemong yang menjadi ciri khas budaya masyarakat setempat. Uang dan beras ditaburkan kepada warga sebagai simbol keberkahan, kemakmuran, dan harapan akan rezeki yang melimpah bagi keluarga yang sedang berbahagia.

Sementara itu, tradisi cemang cemong dilakukan dengan mengoleskan campuran arang dan minyak ke wajah anggota keluarga serta warga yang hadir. Tradisi unik tersebut berlangsung penuh canda dan tawa, menciptakan suasana akrab sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Ini merupakan sejarah turun-temurun dari zaman nenek moyang kita, khususnya wilayah Desa Tuk Karangsuwung. Maknanya sebagai simbol keselamatan, keberkahan, dan doa agar anak tumbuh sehat,” ujar salah satu tokoh adat setempat.

Kemeriahan acara semakin terasa dengan iringan musik tradisional Genjring Dogdog yang menggema sepanjang kegiatan. Berbagai perlombaan rakyat juga turut digelar, mulai dari lomba memukul kantong air menggunakan pentungan, balap karung, hingga lomba unik mengambil uang logam menggunakan gigi dari buah kelapa yang telah dihitamkan dengan campuran arang dan minyak bekas.

Dari tempat berbeda, Hasan Hariri atau yang akrab disapa Kang Hariri BM79, Kaperwilprov Bantenmore.com sekaligus adik kandung nomor lima dari enam bersaudara dengan Sanusi Bin Sa’ad, turut menyampaikan ucapan selamat dan doa melalui pesan WhatsApp.

“Saya mengucapkan selamat dan berdoa untuk keponakan Annisa Billah agar jabang bayinya diberikan kesehatan, lahir dengan normal, serta proses persalinannya berjalan lancar. Semoga kelak menjadi anak yang sholeh dan sholehah, berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan negara,” ungkap Kang Hariri BM79.

Menjelang akhir acara, Ustad Ali kembali memimpin tahlil dan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran kegiatan. Sambutan penutup disampaikan oleh Munadi Kadra yang mewakili keluarga besar Sanusi Bin Sa’ad.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu undangan, warga, dan kerabat yang telah hadir serta memberikan doa terbaik bagi Anissa Billah dan keluarga.

Keluarga besar Sanusi Bin Sa’ad dan Nia Kurniasih pun mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan acara tersebut. Kehadiran dan dukungan masyarakat menjadi bukti kuatnya nilai gotong royong, kebersamaan, serta pelestarian adat budaya yang masih terjaga dengan baik di tengah kehidupan masyarakat modern saat ini.

Acara Walimatul Hamil ini bukan sekadar tradisi, melainkan juga menjadi simbol persatuan, doa bersama, serta harapan besar akan lahirnya generasi penerus yang sehat, saleh, dan membawa keberkahan bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.

Dedi.M.S.

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *