https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Sembilan Kiai Sepuh Memegang Kunci NU: Arah PBNU 2026–2031 Kini Menanti Suara AHWA

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Jakartakompassindonesianews.com/ — Dari Jombang, malam di Tambakberas belum benar-benar sunyi ketika sembilan nama ulama sepuh akhirnya muncul dari lembar-lembar tabulasi. Bukan sekadar daftar nama, mereka kini memegang mandat penting: menentukan arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk lima tahun ke depan.

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Ahad (30/8/2026), resmi menetapkan sembilan ulama sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Mereka terpilih melalui proses tabulasi suara dari peserta Muktamar. Dari 34 nama ulama yang masuk dalam tabulasi nasional, sembilan nama dengan perolehan suara tertinggi mendapatkan mandat sebagai AHWA.

Dan dari sembilan nama tersebut, terdapat sosok yang tidak asing bagi publik nasional: Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, serta Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, KH Afifuddin Muhajir.

A. Sembilan Nama, Satu Mandat Besar

Hasil rekapitulasi menempatkan KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso sebagai peraih suara tertinggi. Disusul KH Nuruzzahri Yahya dan KH Baharuddin HS.

Berikut sembilan anggota AHWA yang ditetapkan:

1. KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) — 485 suara
2. KH Nuruzzahri Yahya — 477 suara
3. KH Baharuddin HS — 392 suara
4. KH Miftachul Akhyar — 350 suara
5. KH Afifuddin Muhajir — 339 suara
6. KH Anwar Iskandar — 326 suara
7. KH Anwar Manshur (Lirboyo) — 303 suara
8. Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj — 273 suara
9. Dr. KH Abun Bunyamin, MA — 268 suara.

Perhitungan dilakukan melalui enam panel tabulasi dengan total 4.703 suara yang masuk dari proses penjaringan calon AHWA. Nama-nama tersebut sebelumnya diusulkan melalui struktur NU, mulai dari PWNU, PCNU hingga PCINU.

Di antara nama ulama sepuh lain yang sempat berada dalam bursa usulan terdapat KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin, dan Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim.

Namun pada akhirnya, sembilan nama itulah yang memperoleh mandat terbesar dari proses tabulasi.

B. Bukan Sekadar Penghormatan, Ahwa Kini Menjadi Penentu

Ada perubahan penting dalam Muktamar ke-35 kali ini.

Muktamar telah menyepakati mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi dalam proses penentuan kepemimpinan PBNU. Dalam Sidang Pleno III, sebanyak 401 suara mendukung mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui AHWA, sedangkan 150 suara memilih agar mekanisme one man one vote tetap dipertahankan.

Dengan keputusan tersebut, sembilan kiai yang kini duduk sebagai AHWA bukan sekadar simbol penghormatan kepada para ulama sepuh.

Mereka mendapatkan amanah yang jauh lebih strategis.

AHWA akan bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031. Selain itu, mekanisme AHWA juga menjadi bagian dari proses penentuan Ketua Umum PBNU apabila musyawarah mufakat tidak menghasilkan keputusan.

Dengan kata lain, sembilan nama ini kini berada di salah satu titik paling menentukan dalam perjalanan NU lima tahun mendatang.

C. Musyawarah Dimulai, Nu Menunggu Keputusan

Tidak lama setelah hasil tabulasi diumumkan, sembilan anggota AHWA langsung memasuki tahapan musyawarah.

Sidang berlangsung di Ndalem Kesepuhan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Ahad malam (30/8/2026). Agenda utama sidang tersebut adalah bermusyawarah untuk menetapkan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031.

Di sinilah tradisi kepemimpinan ulama kembali menemukan ruangnya.

Bukan sekadar siapa mendapatkan suara paling banyak.

Bukan pula tentang siapa yang paling populer.

Tetapi tentang siapa yang dinilai mampu memikul amanah besar untuk menjaga arah jam’iyah, merawat tradisi keulamaan, sekaligus membawa NU menjawab tantangan zaman.

Dan menariknya, pesan yang muncul dari proses AHWA juga bukan semata tentang perebutan posisi.

NU Online melaporkan bahwa setelah Rais Aam terpilih, AHWA menitipkan pesan agar seluruh potensi yang ada di tubuh NU dirangkul dan diajak bersama-sama merawat serta mengurus NU.

Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi maknanya dalam.

NU tidak sedang mencari satu orang untuk berjalan sendirian. NU sedang mencari kepemimpinan yang mampu mengajak banyak orang berjalan bersama.

D. Anwar Iskandar: Ketum MUI Masuk Dalam Sembilan Kiai Penentu

Terpilihnya KH Anwar Iskandar menjadi salah satu perhatian tersendiri.

Sebagai Ketua Umum MUI, keterlibatannya dalam AHWA Muktamar ke-35 menambah bobot perhatian publik terhadap proses kepemimpinan NU. Ia memperoleh 326 suara, menempatkannya pada urutan keenam dalam tabulasi nasional.

Sementara KH Afifuddin Muhajir, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, memperoleh 339 suara dan berada di urutan kelima.

Dua nama tersebut menunjukkan bahwa proses AHWA tidak hanya diisi oleh satu corak latar belakang keulamaan, tetapi menghimpun sejumlah tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan pesantren, organisasi keagamaan, dan kehidupan umat.

E. Dari Tambakberas Untuk Masa Depan NU

Muktamar ke-35 NU berlangsung dalam suasana ketika organisasi keagamaan terbesar ini berhadapan dengan tantangan yang tidak sederhana: perubahan sosial, perkembangan teknologi, dinamika generasi muda, persoalan ekonomi umat, pendidikan, politik kebangsaan, hingga bagaimana menjaga tradisi Islam Nusantara tetap relevan di tengah zaman yang bergerak sangat cepat.

Karena itu, pilihan sembilan anggota AHWA bukan sekadar berita tentang siapa mendapatkan berapa suara.

Ia adalah bagian dari cerita yang lebih besar.

Tentang bagaimana sebuah organisasi keagamaan mencoba menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan, pesantren dan modernitas, ulama dan generasi muda, serta khidmah keumatan dan tantangan kebangsaan.

Tambakberas malam itu bukan hanya tempat penghitungan suara.

Ia menjadi salah satu panggung sejarah NU.

Sembilan nama telah ditetapkan.

Kini pertanyaan besarnya bukan lagi siapa yang masuk AHWA, melainkan:

Siapa yang akan mereka pilih untuk memimpin NU?

Dan lebih jauh lagi—

ke mana Nahdlatul Ulama akan melangkah setelah Muktamar ke-35 menutup lembarannya?

Jawabannya sedang dirumuskan dalam ruang musyawarah para kiai.

Sebab dalam tradisi pesantren, terkadang keputusan terbesar tidak lahir dari riuh suara, tetapi dari heningnya musyawarah, panjangnya doa, dan beratnya amanah yang dipikul.

Penulis:
Burhanudin Fajri
Zill Samt

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *