Jakarta – kompassindonesianews.com/ — Empat hari sudah berlalu sejak sebuah speedboat membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal berlayar menuju Gunung Anak Krakatau. Namun hingga operasi pencarian pada Kamis, 10 September 2026 berakhir, belum ada satu pun dari delapan orang itu yang ditemukan.
Laut Selat Sunda masih menyimpan jawabannya.
Tim SAR gabungan kembali memperluas penyisiran dengan mengerahkan sejumlah kapal, unsur TNI Angkatan Laut, kepolisian, Basarnas, serta potensi SAR lainnya. Pada pengembangan operasi hari keempat, lebih dari 300 personel dilibatkan dan pencarian dibagi ke dalam sejumlah sektor dengan mempertimbangkan data cuaca serta kondisi arus dan perairan.
Delapan orang yang dicari terdiri atas tiga awak dan pemandu kapal—Warta (55) sebagai kapten, Surakman (60) sebagai ABK, serta Heriyanto (49) sebagai pemandu—dan lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, serta Donal, jurnalis lepas.
Mereka meninggalkan kawasan Carita, Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB untuk meliput aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Sebelum komunikasi terputus, masih terdapat jejak yang memberi sedikit harapan. Bagus sempat membagikan posisi rombongan kepada rekannya sekitar pukul 14.42 WIB. Sekitar pukul 15.04 WIB, kontak kemudian terputus. Beberapa jam setelah itu, pemandu Heriyanto masih sempat mengirim foto dari sekitar kawasan Krakatau. Setelahnya, kabar dari laut mendadak senyap.
A. Penyisiran Diperlebar, Laut Belum Memberi Jawaban
Pada hari keempat, sektor pencarian diperluas berdasarkan perhitungan arus, angin, dan kondisi laut. Tim tidak hanya menyisir kawasan sekitar Anak Krakatau, tetapi juga mengembangkan pencarian ke arah perairan Lampung dan pesisir Banten.
Sarana udara pun ikut disiapkan. Basarnas mengerahkan Helikopter Dauphin AS365 N3+ HR-3604 untuk mendukung pencarian dari udara. Namun operasi udara belum langsung menghasilkan petunjuk keberadaan korban. Kepala Basarnas menyatakan pemantauan dari udara belum melihat tanda keberadaan rombongan tersebut.
Pencarian laut juga diperkuat kapal-kapal militer dan unsur lainnya. Basarnas menyebut operasi pada hari itu berkembang menjadi enam sektor dengan 11 kapal, sedangkan laporan lapangan menyebut dukungan kekuatan laut terus bertambah sesuai kebutuhan operasi.
B. Ada Life Jacket, Tetapi Belum Tentu Milik Mereka
Di tengah pencarian yang masih buntu, tim SAR menemukan sebuah life jacket berwarna oranye dan pelampung berbentuk botol berwarna putih di wilayah perairan sekitar Anyer.
Temuan tersebut sempat menjadi harapan baru. Namun Basarnas belum dapat memastikan benda itu berkaitan dengan speedboat Arupadhatu 1 yang membawa delapan orang tersebut. Identifikasi masih diperlukan sebelum benda tersebut dapat dinyatakan sebagai bagian dari perlengkapan kapal yang hilang.
Pemilik kapal juga memberikan keterangan bahwa perlengkapan keselamatan di Arupadhatu 1 memiliki warna berbeda. Karena itu, temuan tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa tim telah menemukan jejak langsung rombongan.
Dan di sinilah keluarga kembali harus menunggu.
C. Pulau Sertung Belum Bisa Disentuh
Salah satu lokasi yang sempat menjadi perhatian adalah Pulau Sertung. Tetapi tim SAR belum dapat melakukan penyisiran langsung di pulau tersebut karena kawasan itu berada dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau, yang masih dinyatakan berbahaya oleh otoritas vulkanologi. Pemantauan sementara dilakukan secara visual dari jarak aman.
Situasi ini membuat operasi SAR harus berjalan di dua medan yang sama-sama menantang: laut yang luas dan gunung api yang masih aktif.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga, sehingga keselamatan tim pencari tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap langkah operasi.
D. Keluarga Menunggu, Dunia Jurnalistik Mengawal
Di Posko SAR Carita, keluarga para jurnalis terus menunggu. Istri Bagus, Desi Purnama, bahkan datang langsung ke posko dan menyampaikan harapannya agar suaminya segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Di sisi lain, dukungan pemerintah juga terus bergerak. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto sejak Senin malam telah menginstruksikan Kepala Staf Angkatan Laut untuk segera mengerahkan kekuatan pencarian.
Sementara Direktur Pemberitaan ANTARA, Virgandhi Prayudantoro, turut mengawal operasi dan mengapresiasi penambahan kekuatan pencarian terhadap lima jurnalis yang menjadi bagian dari rombongan tersebut.
Hingga malam 10 September dan pembaruan awal 11 September, belum ada kepastian tentang keberadaan delapan orang tersebut. Yang ada baru serpihan harapan: sebuah pelampung, sebuah life jacket, jejak komunikasi terakhir, serta foto yang dikirim sebelum laut menutup kabar.
Mereka pergi untuk mengejar gambar sebuah gunung yang sedang bergolak.
Kini kamera, kapal, dan nama-nama mereka justru menjadi bagian dari pencarian yang lebih besar.
Empat hari telah lewat. Laut belum menjawab. Tetapi pencarian belum selesai.
Dan selama satu titik harapan masih mungkin ditemukan di antara ombak, keluarga dan tim SAR akan terus menyisir cakrawala—mencari delapan manusia yang belum juga pulang.
Jurnalis:
Burhanudin Fajri















