https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Dari Balai Kota Menuju Semarang: 56 Kafilah DKI Membawa Harapan Juara MTQ Nasional

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Jakartakompassindonesianews.com/ — Ada perjalanan yang ditempuh bukan sekadar untuk membawa nama daerah, tetapi untuk membawa pesan dari sebuah ibu kota kepada Indonesia.

Pada Jumat, 11 September 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melepas 56 kafilah DKI Jakarta yang akan berlaga pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Ajang nasional tersebut berlangsung 11–20 September 2026, dengan rangkaian perlombaan utama dijadwalkan mulai 13 hingga 19 September.

Pelepasan di Balai Kota DKI Jakarta itu membawa satu target yang cukup jelas: mengubah catatan juara dua menjadi juara satu.

Pramono menyebut DKI Jakarta dalam laporan yang diterimanya telah empat kali berturut-turut menempati posisi juara kedua dalam MTQ Nasional. Karena itu, ia berharap kontingen tahun ini mampu menembus posisi puncak sekaligus menghadirkan hadiah prestasi bagi Jakarta menjelang kota tersebut memasuki usia 500 tahun.

“Insyaallah bisa juara 1,”

Demikian harapan Pramono kepada para kafilah yang dilepasnya.

A. Bukan Sekadar Kompetisi Tilawah

Bagi Pramono, MTQ tidak boleh berhenti sebagai panggung untuk menunjukkan siapa yang paling indah membaca Al-Qur’an.

Lebih dari itu, MTQ dipandang sebagai bagian dari syiar agama, sekaligus ruang untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an.

Pandangan itu sejalan dengan arah pembinaan MTQ di Jakarta. Pada MTQ tingkat provinsi 2026, Pemprov DKI menerapkan pola seleksi berjenjang dari tingkat kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten administrasi hingga provinsi untuk memperluas pembinaan sekaligus membuka jalan lahirnya qari, qariah, hafiz, dan hafizah terbaik dari berbagai wilayah. Para juara pertama kemudian diproyeksikan mewakili Jakarta di tingkat nasional.

Dengan pola tersebut, perjalanan 56 kafilah ke Semarang bukan muncul dalam semalam. Ada proses panjang di belakang nama-nama yang kini dibawa menuju arena nasional.

B. Semarang Menjadi Panggung Nasional

MTQ Nasional XXXI 2026 digelar di Kota Semarang dengan mengusung semangat “Menebar Cahaya Al-Qur’an Dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas Yang Berkeadaban.”

Tahun ini, penyelenggara mencatat 38 kafilah provinsi dari seluruh Indonesia akan ambil bagian, dengan lebih dari 11.000 peserta, ofisial, pendamping, dewan hakim, dan tamu yang diperkirakan hadir sepanjang rangkaian kegiatan. Ajang tersebut mempertandingkan 12 cabang musabaqah dengan puluhan golongan.

Pembukaan dijadwalkan berlangsung di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang pada 12 September 2026, setelah rangkaian kedatangan dan registrasi kafilah serta kegiatan pawai dan malam ta’aruf. Perlombaan kemudian berlangsung di 14 lokasi atau majelis yang tersebar di berbagai titik Kota Semarang.

Artinya, bagi para peserta, Semarang bukan hanya kota tujuan. Ia menjadi ruang untuk menguji hasil latihan, ketekunan, hafalan, suara, tajwid, kaligrafi, tafsir, hingga kemampuan memahami pesan Al-Qur’an.

C. Pesan Gubernur: Menang Penting, Adab Lebih Penting

Di tengah ambisi meraih emas, Pramono memberikan pesan yang lebih sederhana namun justru lebih dalam: jaga perilaku.

Ia meminta seluruh kafilah menjaga sikap, tutur laku, dan nama baik Jakarta selama berada di luar daerah.

Harapannya, mereka tidak hanya pulang membawa piala, tetapi juga membawa kebanggaan bagi keluarga, masyarakat, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Bahkan, Pramono telah menyiapkan penyambutan khusus bila target juara pertama benar-benar tercapai. Ia meminta agar kafilah juara segera disambut di Balai Kota dan menyatakan akan hadir langsung menyambut mereka.

Pesan tersebut terasa penting, sebab dalam sebuah musabaqah yang membawa nama Al-Qur’an, prestasi semestinya berjalan beriringan dengan akhlak.

D. Harapan Jakarta di Tengah Cahaya Al-Qur’an

Kafilah DKI Jakarta kini berangkat dengan dua bekal: kemampuan yang telah dilatih dan doa yang dititipkan.

Target juara pertama memang menjadi ambisi. Tetapi kemenangan terbesar dari sebuah MTQ semestinya tidak berhenti pada angka perolehan medali.

Ia hadir ketika Al-Qur’an yang dilantunkan di panggung juga menjelma menjadi akhlak di luar panggung.

Ketika suara indah bertemu dengan perilaku yang santun.

Ketika hafalan tidak hanya tersimpan di kepala, tetapi turun menjadi nilai dalam kehidupan.

Semarang kini menunggu.

Simpang Lima akan menjadi salah satu panggung awalnya. Puluhan arena akan menjadi tempat para peserta menguji kemampuan. Dan dari Jakarta, 56 kafilah membawa satu harapan yang sama:

setelah empat kali pulang sebagai juara kedua, kali ini mereka ingin pulang membawa mahkota pertama.

Bukan hanya untuk Jakarta.

Tetapi untuk menunjukkan bahwa cahaya Al-Qur’an dapat melahirkan prestasi sekaligus peradaban.

Jurnalis:
Burhanudin Fajri

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *