SLEMAN – KompassIndonesianews.com Dampak kemarau panjang kini mulai dirasakan petani kopi di lereng Gunung Merapi. Menanggapi hal tersebut, Panewu/Camat Cangkringan bersama Kabid Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan dan Peternakan Kabupaten Sleman melakukan pemantauan langsung ke kebun – kebun kopi milik warga pada Kamis 8 Oktober 2026.
” Pemantauan setengah hari yang kami lakukan dengan menyusuri kebun kopi milik warga di sejumlah dusun yang ada di Kapabewon/Kecamatan Cangkringan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung dampak kemarau yang hingga saat ini belum juga turun hujan mundur satu bulan dari jadwal normal,” kata Kabid Hortikultura dan Perkebunan Dinas P3 Kabupaten Sleman, Eko Sugianto.
Dari hasil pantauan secara umum, tanaman kopi di lereng Merapi masih dalam kondisi aman dan masih bisa diselamatkan walau masa kemarau sudah mundur satu bulan belum ada hujan,” tambahnya.
Eko menjelaskan, tanah vulkanik di lereng Merapi masih mampu menyimpan cadangan air, serta petani kopi masih bisa melakukan penyiraman manual sehingga tanaman kopi masih bertahan merkipun daun – daunnya mulai menunjukkan gejala stres akibat kekurangan air.
Namun demikian, dalam pantauan kami dilokasi ada ditemukan satu lokasi kebun kopi yang sudah memasuki masa kritis sehingga dalam minggu ini akan segera di drop air.
” Lanjut Eko, dimungkinkan kalau satu bulan ke depan tidak dapat air tanaman itu sulit untuk diselamatkan,” ungkap Eko.
” Menanggapi temuan tersebut, Panewu/Camat Cangkringan, Tamzis Sarwana, menegaskan pihaknya akan segera melakukan intervensi dengan melakukan dropping air ke lokasi kritis air tersebut.
Kami bersama Dinas terkait akan berkoordinasi untuk pengiriman air dalam minggu ini agar tanaman kopi milik petani tidak mati kekeringan.
” Menurut Tamzis, tanaman kopi merupakan salah satu komoditas unggulan penompang ekonomi warga lereng Merapi, sehingga harus menjadi perhatian kita bersama di tengah ancaman kemarau panjang,” tutup Panewu/Camat.
(Joni)















