Kabupaten Sleman – Kompassindonesianews.com, Wakil Bupati Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, Dr.H.Kasmidi Bulang, Ketua DPRD Kutai Timur Joni S, beserta rombongan mengadakan studi banding ke pembudidayaan Maggot milik Mardiharto yang terletak di Dusun Ketingan, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon/ Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman pada hari Rabu, 22 Mei 2024.
Mardiharto yang juga sebagai Lurah Tirtoadi, Kapanewon/ Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY mengatakan, rombongan studi banding dari Pemkab Kutai Timur, Kalimantan Timur dipimpin lansung Wakil Bupati Kutai Timur Dr.Kasmidi Bulang dan didampingi Ketua DPRD Kutai Timur, Joni S, beserta rombongan yang menggunakan dua Bus,” ujar Lurah Mardiharto.
” Lurah Mardiharto, menyampaikan rombongan dari Kutai Timur ini untuk melihat secara lansung proses budidaya Maggot milik nya yang terletak di Dusun Ketingan, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon/ Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY.
” Saat kunjungan dari Kutai Timur tersebut, Lurah Mardiharto menjelaskan proses budidaya Maggot belatung atau benga larva dari lalat buah jenis black soldier fly BSF.” Di jelaskan pula, larva lalat hitam yang ditemukan pada bangkai buah sayur yang sudah rusak.
” Iya menyebut, lalat ini termasuk lalat yang bersih, karena tidak memakan sisa makanan manusia.” Maggot berperan sebagai pengurai alami dalam mengurai material organik yang sudah mati,” ungkap Lurah Mardiharto.
” Mardiharto juga menerangkan proses pengurai dari 1 kg Maggot bisa mengkonsumsi 3 kg sampah organik dan 1 induk BSF bisa menghasilkan 500-900 butir telor, 1 gram BSF menghasilkan 3-4 kg Maggot – Maggot dapat dipakai untuk pakan ayam broiler, ayam petelur, bebek dan ikan lele dan ini bisa menghemat 30% pakan unggas dan ikan dan kami juga sedang mengembangkan untuk menjadi pupuk cair,” tutur Lurah Mardiharto.
” Lebih lanjut, Mardiharto menceritakan siklus hidup larva / Maggot BSF setelah dia bertelur kita budidayakan selama 7 hari bisa menjadi Maggot, kemudian menjadi pra pupa dalam 2 Minggu terus akan menjadi lalat setelah kembali bertelur siklus ini terus bermetamorfosis atau berubah menjadi pupa dan lalat dewasa.” Mardiharto juga menjelaskan, dalam usaha budidaya Maggot ini, kami juga bekerjasama dengan laboratorium kimia organik dari Perguruan Tinggi UGM dan hasilnya sudah ada sudah masuk kasgotnya ini juga sudah kita laborkan berapasih kandungan kasgotnya.
” Lalu hasilnya sudah ada termasuk kasgotnya ini juga sudah kita laborkan, berapa kandungan kasgot ini nanti menjadi pupuk cair ini baru proses ya mungkin sebulan atau dua bulan lagi sudah ada hasilnya tapi saya yakin juga bagus sekali.
” Ia juga menceritakan budidaya Maggot yang kami kelola ini, menempati lahan seluas 6.500 meter persegi yang terletak di Dusun Ketingan, Kalurahan Tirtoadi, Mlati, Sleman.” Sebetulnya usaha ini kami kelola sebelum Covid -19 sampai sekarang, namun sempat terhenti karena pandemi Covid -19 tapi sekarang sudah berjalan kembali.
” Mardiharto juga menjelaskan, untuk makanan Maggot untuk material organik kami peroleh dari sampah rumahan dan ada juga dari rumah makan dan restoran disekitar sini,” tuturnya.
” Sementara itu, Wakil Bupati Kutai Timur Dr. Kasmidi Bulang menuturkan kami belum pernah tau termasuk saya sendiri juga belum tau tentang Maggot ini.
” Dan kami senang mendapat pelajaran dari kunjungan kami ke budidaya Maggot yang dikelola oleh pak Lurah, karena hal ini berkaitan dengan lingkungan.” Jadi, bagaimana limbah – limbah itu diurai oleh Maggot, yang kemudian bisa menjadi pakan ternak dan termasuk pupuk dan lain – lainnya,” tambah Wakil Bupati.
” Wakil Bupati menyebut, di Kutai Timur ada tapi proses mengurai sampah ini yang kami masih kurang.” Karena di Kutai Timur hal ini untuk pakan ternak babi juga ternyata diambil dari situ,” ujar Wakil Bupati.
” Ini suatu pelajaran untuk kami, kami akan upayakan agar budidaya Maggot ini dapat di kembangkan dan bila ada petani yang mau membudidayakan Maggot ini akan kami supporting,” tutup Wakil Bupati. (Joni)














