https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Gandeng Sanggar Hadi Seminar Tempel, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman Gelar Bedah Serat Wedhataya.

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten Sleman – Kompassindonrsianews.com Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengandeng Sanggar Hadi Seminar Tempel menggelar bedah Serat Wedhataya di Omah Petroek Pakem Sleman pada hari Senin tanggal (5)8/2024).

Dalam acara bedah Serat Wedhataya ini juga dihadiri oleh DPAD DIY, Brind pemilik naskah kuno wilayah Kabupaten Sleman, Kalurahan yang menerima bantuan dari Pojok Baca Digital (Pocadi), guru bahasa Jawa, Kepala sekolah TBM, pemerhati budaya Jawa, pencita tari dan naskah kuno.

” Kegiatan tersebut sekaligus menyerahkan bantuan dari, Pojok Baca Digital kepada 4 Kalurahan yang menerima bantuan tersebut.” Yaitu, Kalurahan Sendangadi, Balecatur, Sinduadi, dan Condongcatur, ujar, Kabid Pembinaan dan Pengelolaan Perpustakaan Kabupaten Sleman Ch.Rini Puspitasari,S.P, M.Si dalam laporannya.

” Rini mengatakan, di selenggarakannya bedah naskah kuno ini dimasukkan alih bahasa dan aksara sekaligus mengedukasi masyarakat agar mengetahui dan memahami naskah kuno yang terkandung di dalamnya ujar Rini.

” Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman yang disampaikan oleh Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Abu Bakar, S.Sos, M.Si, mengatakan Serat Wedhataya ini merupakan naskah kuno yang berisi mengupas makna tarian keprajuritan klasik yang di terjemahkan dalam bahasa Indonesia tutu Abu.

Sedangkan narasumber dalam acara bedah naskah kuno ini kami mengundang Drs.Antonius Suparno Dipomenggolo sekaligus pemilik Serat Wedhataya yang merupakan warisan dari ayahnya yang akan mengulas tari keprajuritan.

Selain itu, kami juga mengundang seorang maestro Didik Nini Thowok yang bersedia membedah buku kuno yang sudah di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dapat dengan mudah dipahami bagi generasi muda.

Abu Bakar, juga menjelaskan buku ini di tulis oleh seorang penulis Pakempalan Yogyakarta Surakarta Hadiningrat setebal 56 halaman 21×16 centi meter yang berisi filosofi 11 gerakan tari jenis tarian. Abu juga menambahkan dalam petunjuk teknis dari jenis – jenis tari tahun Jawa dimulai dari 1555 sampai 4150 Jawa sama Masehi selisih tahun Masehi dan Jawa untuk tahun 66 dan 67.” Sedangkan isi naskah kuno ini diantaranya adalah filosofi gerak tari duduk berisi 4 pedoman menari guncangan menimbulkan keseimbangan baru tingkat brahmana, satria, wiswa, sudra – sudra jelasnya.

” Lalu di dukung kaki kiri kanan yang baik atau buruk tetap direngkuh, artinya kebaikan akan tumbuh kebaikan tanjak ke kiri agar menghindari perilaku tidak panas.” Kesulitan alih aksara kalimat naskah terlalu panjang alih aksara sekaligus menata kalimat pemahaman paramasastra di perlukan,” tambah Abu.

Harapan kita kedepannya, dengan adanya bedah Serat Wedhataya ini perlu ada Workshop perlu ada ahli sastra dan praktisi tari sendiri tari – tarian gaya Surakarta, Tarian perang olah prajurit dan Serat Wedhataya perlu di rekonstruksi tutup Abu.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *