https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg
Berita  

Prof.dr.M.Bayu Sasongko, Launching Fundus Camera Portabel Berbasis Smartphone Ret – InnoQ

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten Sleman – Kompassindonesianews.com Gambar Retina portabel sangat penting, terutama konteks nya untuk screening atau penipisan dini retinopati diadekia. Sedangkan Retinopati diadebika itu, adalah komplikasi akibat diabetes yang sangat sering terjadi dan paling banyak menyebabkan kebutaan permanen.

Hal itu disampaikan oleh, Prof.dr.M.Bayu Sasongko, SpM.M.Epid.PhD saat acara Launching Fundus Camera Portabel berbasis Smartphone Ret – InnoQ di The Alana Hotel pada hari Selasa tanggal 19 November 2024.

Ia mengatakan kebutaan itu, tidak dapat disembuhkan atau di kembalikan.” Jadi kalau sudah tidak bisa melihat turun pada diabetes ini, akibat dari retinopati diadebika sehingga penting di lakukan screening untuk mengetahui sejak awal sebelum timbul komplikasi tahap ringan, berat dan tahap lanjut,” ucapnya.

” Lebih lanjut, Bayu menyampaikan bahwa kira bisa melacak dan melakukan intervensi penanganan yang di perlukan untuk mencegah kebutaan tadi,” jelas Bayu.

Hal itu bisa dilakukan dengan alat yang namanya Retinoqiu dengan cara kerjanya cukup dengan menempelkan alat ini pada Smartphone, dengan posisi didekatkan ke mata dan kita foto retinanya dengan kamera yang pada masa sekarang orang pasti punya Smartphone yang kameranya bagus – bagus yang bisa di gunakan dengan alat ini.

Di sampaikan, alat ini tujuannya adalah untuk mendeteksi lebih awal sebelum masuk ke kebutaan melalui tahapan screening ini terutama bagi penderita diabetes.

Dari data diperoleh untuk penanggulangan penderita diabetes yang mengalami kebutaan, kalau penanganinya dengan retinopati diadebika sangat mahal.” Apabila di dideteksi lebih dini biaya yang di keluarkan lebih murah, alat ini sendiri harganya sekitar Rp.600 – 700 juta an dan itu yang mempunyai standar rumah sakit. Dan alat ini, dibikin fleksibel untuk bisa mengakomodir handphone yang besar atau yang kecil.

Etina untuk retina portabel yang itu, di tempelkan pada Smartphone yang berfungsi untuk mengambil gambar retina.” Nah gambar retina ini sangat penting terutama dalam konteks screening atau penepisan dini retinopati diadebika, retinopati diadebika sendiri adalah komplikasi akibat diabetes yang sangat sering terjadi dan paling banyak menyebabkan kebutaan permanen.

Kebutaannya itu tidak bisa di sembuhkan, tidak bisa di kembalikan jadi kalau sudah tidak bisa melihat atau pandangannya itu turun pada diabetes akibat retinopati diadebika ini tidak bisa kembali. Sehingga sangat penting dilakukan screening untuk mengetahui dari wal sejak belum ada komplikasi – komplikasi tahap ringan, sedang, berat dan tahap lanjut.” Jadi dari tahap – tahap itu, kalau kita bisa melacak kita bisa melakukan intervensi atau bisa melakukan penanganan yang di perlukan untuk mencegah kebutaan tadi,” tambahnya.

Bayu, menyebut nama alatnya retinoqiu, jadi cara kerjanya alat ini cukup di tempelkan pada Smartphone jadi kira – kira nanti seperti ini. Jadi ini ada Smartphone ini di tempelkan disini kemudian ini dalam posisi didekat mata, kemudian ini mode kamera dan ini lansung kita ambil ke foto retinanya.

Jadi sangat sederhana, karena saat ini semua orang punya Smartphone kemudian perkembangan kamera pada Smartphone itu juga semakin baik semakin bagus.” Memang untuk mengambil gambar retina itu, juga semakin mudah bisa dilakukan dengan Smartphone dan dengan alat ini sambil menunjukan alatnya.

” Bayu juga menerangkan bukan memperjelas penglihatan, tapi itu mendeteksi lebih awal. Jadi sebelum kebutaan itu ada fase – fase tahap – tahap yang dilalui, sebelum sampai kebutaan. Alat ini, tujuannya adalah mendeteksi jadi kalau penderita diabetes penglihatannya masih bagus.

Itu harus dilakukan screening harus diambil foto retinanya kenapa, karena harus dilihat kalau masih bagus berarti nanti kita harus ikuti. Misalnya nanti setahun lagi atau 6 bulan lagi itu, harus diikuti sehingga begitu dia ada retinopati nya bertambah buruk itu bisa kita deteksi.

Kita bisa tahu sehingga kita bisa lakukan penanganan yang di perlukan, perjalanan retinopati diadebika ini sering kali tidak menimbulkan gejala.” Jadi di tahap awal dimana itu sudah harus dilakukan penanganan, itu pasien biasanya belum merasakan apa – apa penglihatannya masih baik.

” Itulah mengapa screening itu, menjadi sangat penting karena begitu pasien sudah mengeluh blawur penglihatannya turun itu kecenderungan sudah permanen dan tidak bisa jelas lagi apalagi sudah tidak bisa melihat lagi. Itu kemungkinan besar sudah permanen, sehingga kalau dari awal pada waktu masih bagus penglihatannya kita tau ini perlu dilakukan terapi atau perlu diberikan obat nah penglihatan bisa kita pertahankan tetap bagus sampai seterusnya dengan catatan diabetes nya harus terkontrol.

Bayu, juga menyampaikan dari data yang kami dapatkan dulu banyak sekali penderita diabetes di Indonesia, yang itu sudah mengalami kebutaan biaya untuk penanggulangan penyakit retinopati diadebika atau untuk penangan retinopati diadebika ini sangat mahal.

” Nah kalau itu terdeteksi lebih awal itu, biaya yang dikeluarkan itu bisa jauh lebih murah dari pada kalau dia sudah tahap lanjut.

Sehingga yang biasa dilakukan itu pasien datang ke rumah sakit, kemudian dilakukan foto vundus foto retina juga tapi dengan alat yang standard rumah sakit yang canggih.

Alat itu pun harganya mahal sekali harganya 600-700 jutan rupiah, karena mahal tidak mungkin dilakukan secara massal karena mahal.” Padahal idealnya screening ini dilakukan di tingkat masyarakat di Puskesmas atau mungkin di komunitas, ini memang harga jual pastinya itu belum fiks karena masih tergantung banyak hal saat seperti ini masih pengurusan ijin edar dan juga kita usulkan menjadi satu topik prioritas usulan topik prioritas untuk teknologi kesehatan di Kementerian Kesehatan.

Dan itu tergantung rekomendasinya, tapi estimasi ini memang masih di bawah 20 jutaan.” Biaya produksinya sendiri ini, lama jadi dari desain prototipe – prototipe itu dari 2018 jadi 6 tahun.” Karena gagal revisi gagal revisi sampai akhirnya menemukan satu prototipe yang itu bisa masuk ke semua jenis handphone itu lensanya juga cocok untuk kamera.

” Ya, sebenarnya idenya hampir kayak tongsis, ya tapi kalau tongsis kan ini HP nya disini kita bawa HP nya sambil memperlihatkan cara memasang alatnya.” Di sini yang sulit adalah, ukuran bola mata itu kan unik masing – masing orang itu jendela mata itu juga berubah – ubah ukurannya.

Kemudian diakomodir dengan ini, bisa maju mundur kemudian ini bisa mutar rotasi ke kanan ke kiri, kemudian ini juga bisa ditarik di kendurkan di kencangkan untuk mengakomodir handphone yang lebar dan handphone yang kecil,” tutupnya.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *