https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Duka Menyentuh di Sungai Gayung Kiri: Warga Harap Perbaikan Akses Setelah Jenazah Ditandu Menyusuri Laut

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

 

MERANTI – kompassindonesianews.com — Suasana haru menyelimuti Desa Sungai Gayung Kiri, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, setelah jenazah seorang warga, Suriyati, harus ditandu sejauh hampir satu kilometer menyusuri laut dangkal karena tidak adanya akses jalan yang memadai. Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 6 April 2025 itu menggugah perhatian publik sekaligus menguak kenyataan getir yang masih dihadapi sebagian warga di wilayah terluar.

Jenazah almarhumah yang sebelumnya dirujuk dari Puskesmas Tanjung Samak ke RSUD Selatpanjang, akhirnya dipulangkan menggunakan speed boat milik Baznas. Namun nahas, kapal tidak dapat merapat ke darat karena air surut dan kondisi pantai yang landai dan berlumpur. Warga pun terpaksa menandu jenazah di tengah air laut setinggi pinggang.

Perdana Noriowati, Kepala Desa Sungai Gayung Kiri, tak kuasa menahan haru menyaksikan proses tersebut. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada warganya atas keterbatasan yang selama ini masih menjadi beban bersama.

Kami semua ikut berduka dan prihatin. Ini menjadi cambuk bagi kita semua untuk terus memperjuangkan perbaikan akses dan layanan di desa ini,” ujarnya.

Warga desa berharap kejadian ini tidak berlalu begitu saja. Bagi mereka, ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan bukti nyata bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh seluruh pelosok daerah.

Yanti, warga setempat, menyampaikan harapan agar peristiwa ini membuka mata semua pihak tentang pentingnya pemerataan pembangunan.

Kami ingin hidup yang layak, akses jalan yang bisa dilewati setiap saat. Kalau begini terus, bagaimana anak-anak kami bisa sekolah, orang sakit bisa tertolong, dan jenazah bisa dipulangkan dengan layak?” ujarnya.

Harapan serupa juga disampaikan oleh tokoh masyarakat lainnya yang berharap momentum ini menjadi titik balik perhatian serius terhadap desa-desa terpencil.

Sudah cukup kami bertahan dengan kondisi ini. Kami hanya ingin didengar dan diberi jalan, secara harfiah maupun harapan,” kata salah satu warga

 

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya keadilan infrastruktur. Masyarakat hanya ingin satu hal: bisa hidup dan mati dengan layak di kampung halaman sendiri.

Penulis: Ardes

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *