https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Gandeng Yayasan Sakuranesia Society, Sleman Festival Gelar Pesta Kembang Api

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten SlemanKompassindonesianews.com Pemerintah Kabupaten Sleman akan menyelenggarakan Sleman Culture Festival (SCF) di Lapangan Denggung, Sleman. Acara ini akan menampilkan festival upara adat, pacuan kuda, parade militer, hingga pesta kembang api bertajuk ” Heiwa Hanabi atau The Peace Fireworks ” of Peace dari Jepang. Festival ini, akan digeral selama dua hari pada Jumat dan Sabtu (22-23/8/2025).

Festival ini digagas dalam rangka peringatan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dengan menekankan pembangunan daerah berbasis kearifan budaya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman, Susmiarto mengatakan SCF 2025 ini bukan sekadar tontonan tahunan melainkan penguatan jati diri masyarakat,” ucapnya saat beri keterangan kepada awak media Rabu 20 Agustus 2025 bertempat di Pendopo Parasamya Sleman.

” Lanjutnya, Pemkab Sleman tidak memiliki ajang khusus dalam memeriahkan hari Kemerdekaan. Maka festival upacara adat yang selama ini rutin dilakukan Dinas Kebudayaan kami sinergikan dengan program internasional dari Yayasan Sakuranesia asal Jepang,” terangnya.

” Susmiarto menambahkan upacara adat ini, bukan ritual keagamaan melainkan warisan sosial yang kaya filosofi. Inilah cara kita merawat akar budaya dan mewariskannya kepada generasi muda,” tambahnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman, Ishadi Zayid menyampaikan Sleman Culture Festival ini mengabungkan kebudayaan khas Kabupaten Sleman melalui Festival upacara adat. Dalam acara ini kita juga akan menampilkan pacuan kuda kepang, penampilan dari siswa – siswi Sleman dan ditutup dengan kemeriahan kembang api yang mengambarkan pencapaian mimpi anak – anak pada Sabtu 23 Agustus 2025.

” Setiap kelompok berisi minimal 30 orang sehingga total peserta mencapai ratusan pelaku budaya, mereka membawakan ragam upacara khasnya seperti Turawahan, Suran, hingga Merti Dusun sebagai wujud syukur, gotong royong dan nilai luhur budaya Jawa,” ucap Ishadi.

Lanjutnya menambahkan, kontingen akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi, praktisi, dan pemerhati budaya. Hanya lima kelompok terbaik yang akan mendapatkan penghargaan, festival ini adalah ruang ekspresi generasi muda agar mereka sadar identitasnya jangan sampai tradisi hanya di wariskan ke generasi tua,” imbuhnya.

Festival upacara adat akan diikuti oleh 17 kontingen dari 17 Kapanewon/Kecamatan yang ada di Kabupaten Sleman, penyelenggaraannya dibagi dalam dua hari. Pada hari Jumat (22/8/2025) dimulai pada pukul 08.00 – 14.30 WIB dengan menghadirkan kontingen dari Kapanewon/Kecamatan Turi, Sleman, Ngemplak, Gamping, Cangkringan, Minggir, Seyegan, Godean, dan Tempel.

” Lalu pada Sabtu (23/8/2025) festival menghadirkan kontingen dari Kapanewon/Kecamatan Berbah, Kalasan, Pakem, Moyudan, Mlati, Prambanan, Ngaglik, dan Depok. Pada hari yang sama Pacuan Kuda d-X Pang digelar pukul 12.00 – 13.00 WIB, pesta kembang api baru dimulai pukul 21.15 sampai 21.45 WIB dengan peluncurannya dari rooftop Sleman City Hall.

Lebih lanjut, ia juga menerangkan dalam acara ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman juga terlibat dalam SCF dengan menghadirkan bazar UMKM mulai tanggal 22 sampai 23 Agustus 2025 sepanjang penyelenggaraan SCF di Jogging Track sepanjang sisi utara Lapangan Denggung Sleman.

” Founder Yayasan Sakuranesia Society, Ms.Sakura ljuin, mengatakan kembang api yang akan diluncurkan dalam acara SCF 2025 ini bernama Heiwa Hanabi atau Kembang Api Perdamaian. Hal ini, sebagai makna doa dan harapan di tuangkan dalam kembang api sehingga akan membumbung tinggi ke langit.

Sakura, juga menjelaskan bahan peledak yang dahulu menjadi simbol perang kini kami ubah menjadi kembang api, ini sebuah simbol perdamaian.

Melalui perayaan cahaya ini, kami berharap masyarakat Indonesia – Jepang dan seluruh dunia dapat terus menenun ikatan persahabatan dan perdamaian,” kata Sakura.

Kembang api perdamaian di Indonesia mulanya berasal dari usul Founder dari Foundation Heiwa Matsuri, Mayu Ogawa, lalu Founder Mirai Gift, Masanari Aso dan Yudai Ishikawa. Dalam acara kali ini, Yayasan Sukaranesia Society akan menyambut 60 tamu dari Jepang.

Kami juga akan menyerahkan satu set lengkap alat musik Marching Band beserta kostumnya serta mendukung program pelatihan secara berkelanjutan selama satu tahun penuhi bagi anak-anak,” pungkasnya.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *