Lombok Tengah –KompassIndonesiaNews.Com – Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Batukliang terus berinovasi dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat. Para penyuluh Agama Islam KUA Batukliang kini memanfaatkan berbagai media digital sebagai sarana sosialisasi dan dakwah, sejalan dengan tuntutan era digital dan transformasi layanan pemerintah.24 Oktober 2025.
Melalui platform digital seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, hingga YouTube, para penyuluh aktif membagikan konten dakwah, informasi seputar keagamaan, serta program-program Kementerian Agama Republik Indonesia. Konten tersebut dikemas dalam bentuk video pendek, poster digital, tulisan reflektif, hingga siaran langsung (live streaming) yang memungkinkan masyarakat menyimak secara interaktif.
“Pemanfaatan media digital ini menjadi jembatan bagi penyuluh untuk lebih dekat dengan umat, khususnya generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi,” ujar Ainuddin Fahri, Ketua Forum KUA Loteng. Menurutnya, dakwah tidak lagi hanya dilakukan dari mimbar ke mimbar, tetapi juga melalui gawai di genggaman masyarakat.
Langkah digitalisasi ini dinilai efektif dalam memperluas jangkauan dakwah. Informasi mengenai bimbingan pranikah, pencegahan perceraian, penguatan keluarga sakinah, hingga ajakan menjaga kerukunan umat beragama dapat disebarluaskan lebih cepat dan tepat sasaran.
Masyarakat yang sebelumnya sulit hadir dalam kegiatan penyuluhan tatap muka kini tetap dapat memperoleh pemahaman keagamaan melalui konten digital yang mudah diakses kapan saja dan di mana saja.
Mendukung Transformasi Layanan KUA
Pemanfaatan media digital oleh penyuluh juga selaras dengan program Kementerian Agama untuk mewujudkan KUA sebagai pusat layanan keagamaan terpadu berbasis digital. Penyebaran informasi secara daring menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi agama sekaligus mendekatkan pelayanan KUA kepada masyarakat.
Dengan kehadiran konten digital, penyuluh KUA Batukliang tidak hanya berperan sebagai pembimbing dan pendidik langsung di tengah masyarakat, tetapi juga tampil sebagai dai digital yang adaptif terhadap tantangan zaman.
Ke depan, diharapkan para penyuluh agama semakin meningkatkan literasi digital serta kemampuan dalam membuat konten kreatif dan edukatif yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan begitu, pesan dakwah akan tetap relevan, menarik, serta mampu menjadi penyejuk di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial masyarakat.
“Digitalisasi dakwah ini bukan sekadar tren, tetapi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga dan menyebarkan nilai-nilai Islam secara bijak, modern, dan membumi,” tutup Ainuddin Fahri.
( M.Rifa’i )















