https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Sanae Takaichi Jadi Perdana Menteri Wanita Pertama dalam Sejarah Jepang

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kompassindonesianews Tokyo, 21 Oktober 2025
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Jepang, parlemen negara itu memilih seorang perempuan sebagai Perdana Menteri.
Sanae Takaichi, politisi senior berusia 64 tahun dari Partai Liberal Demokrat (LDP), secara resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Jepang ke-104 setelah memenangkan pemilihan internal partai dan memperoleh dukungan mayoritas parlemen pada Selasa (21/10).

Pengangkatan Takaichi menandai momen bersejarah bagi Jepang — negara maju yang selama ini dikenal memiliki partisipasi perempuan yang sangat rendah di politik tingkat tinggi. Ia menjadi wanita pertama yang memimpin pemerintahan Jepang sejak negara itu berdiri pasca-Perang Dunia II.

Profil Singkat Sanae Takaichi

Nama Lengkap: Sanae Takaichi (高市 早苗)
Lahir: 7 Maret 1961, Prefektur Nara, Jepang
Usia: 64 tahun
Pendidikan: Fakultas Ekonomi, Kobe University
Partai Politik: Liberal Democratic Party (LDP)
Jabatan: Perdana Menteri ke-104 Jepang
Karier Sebelumnya: Menteri Dalam Negeri, Menteri Komunikasi, dan Menteri Keamanan Ekonomi.

Sebelum terjun ke dunia politik, Takaichi dikenal memiliki sisi unik — ia pernah menjadi pemain drum dalam sebuah band rock semasa kuliah di Kobe University.
Dalam wawancara tahun 2016, ia menyebut pengalaman bermusik itu membentuk kedisiplinan dan ritme kepemimpinannya.

“Bermain drum mengajarkan saya mendengar harmoni di sekitar. Politik pun seharusnya begitu,”
— Sanae Takaichi, wawancara NHK, 2016.

Perjalanan Menuju Kursi Perdana Menteri

Takaichi terpilih sebagai Ketua LDP pada 4 Oktober 2025, menggantikan Fumio Kishida. Partainya kemudian membentuk koalisi baru dengan Japan Innovation Party (JIP) setelah perpecahan dengan Komeito, yang membuka jalan bagi Takaichi menuju kursi Perdana Menteri.

Dikenal sebagai konservatif nasionalis, Takaichi berkomitmen melanjutkan kebijakan ekonomi peninggalan Shinzo Abe (Abenomics), memperkuat aliansi Jepang–AS, serta menegaskan posisi Jepang di kawasan Indo-Pasifik.
Namun, ia juga menolak beberapa reformasi sosial seperti suksesi perempuan di keluarga kekaisaran dan penggunaan nama keluarga berbeda bagi pasangan menikah.

Makna dan Tantangan

Pengangkatan Takaichi disambut beragam.
Bagi banyak warga, ini adalah simbol kemajuan gender, menandakan bahwa Jepang mulai membuka diri terhadap kepemimpinan perempuan.
Namun para pengamat menilai, simbol itu belum tentu diikuti perubahan kebijakan yang berpihak pada perempuan dan rakyat kecil.

Takaichi kini menghadapi tantangan berat: memulihkan ekonomi, menjaga stabilitas politik, dan memperkuat posisi Jepang di tengah rivalitas global antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Sejarah Baru di Asia Timur

Kepemimpinan Takaichi bukan hanya tonggak sejarah bagi Jepang, tetapi juga menjadi cermin dinamika politik Asia Timur. Negara yang selama ini lamban dalam reformasi gender kini menempatkan perempuan di puncak kekuasaan.

“Kepemimpinan tidak mengenal jenis kelamin, tetapi mengenal tanggung jawab terhadap bangsa,”
— Sanae Takaichi, pidato pelantikan, Tokyo, 21 Oktober 2025.

Dengan langkah ini, Jepang resmi menulis bab baru dalam sejarahnya

sebuah kisah tentang wanita pertama yang menembus dinding patriarki, dan kini memimpin salah satu negara paling berpengaruh di dunia.

(Komarudin)

Sumber: NHK Japan, The Japan Times, Reuters

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *