https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Gabungkan Budaya Kesehatan dan Spiritualitas, Jogja Festival Kembali di Gelar

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

YOGYAKARTAKompassindonesianews.com Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai destinasi budaya dan wellness terkemuka di Indonesia, melalui Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025. Festival yang telah memasuki tahun ketiga ini, resmi di perkenalkan kepada publik lewat konferensi pers di Mustika Yogyakarta Resort & Spa pada Sabtu (1/12/2025).

” Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Gusti Kanjeng Ratu Bendara menjelaskan bahwa JCWF 2025 hadir sebagai upaya mengangkat kearifan lokal dan memperkuat citra Yogyakarta sebagai salah satu dari tiga daerah prioritas dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di sektor wellness tourism.

Lanjutnya, tahun ini JCWF memasuki tahun ketiga. Kami ingin mengangkat kearifan lokal Yogyakarta sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Ini bukan sekadar festival, tetapi pertemuan antara komunitas wellness, pelaku pariwisata, dan masyarakat yang ingin mengenal lebih dalam konsep hidup sehat berbasis budaya,” terangnya.

GKR Beranda, juga menjelaskan festival sebuah penuh dengan empat tema. JCWF 2025 akan berlangsung di Mustika Yogyakarta Resort & Spa, dengan empat tema berbeda setiap minggunya. Festival ini tidak hanya menampilkan pertunjukan budaya, tetapi juga menghadirkan berbagai workshop, bazar, hingga diskusi inspiratif yang menghubungkan tradisi lokal dengan praktik wellness modern.

” Lebih lanjut, ia menerangkan minggu pertama dibuka dengan tema ” Healthy Food ” yang mengangkat ragam kuliner tradisional sehat khas Nusantara.

Pengunjung diajak mengenal filosofi makanan lokal yang terekam dalam relief Candi Borobudur dan Prambanan, sekaligus mencicipi interpretasi modern dari resep – resep kuno tersebut.

Kita ingin menunjukkan bahwa makanan dalam budaya Jawa itu bukan sekadar konsumsi, tapi juga bagian dari bahan alami, cara masak, hingga nilai spiritualnya.

GKR Bendara, mengatakan memasuki minggu kedua tema ” Healthy Living ” akan menyoroti gaya hidup sehat secara menyeluruh mulai dari olahraga tradisional, yoga, hingga praktik keseharian ramah lingkungan.

Minggu ketiga mengambil fokus pada ” Spiritual Wellness ” membahas hubungan antara kesehatan mental, spiritualitas, dan budaya. Sedangkan minggu keempat dan kelima akan ditutup dengan tema ” Mental Health dan Closing Celebration ” yang berpuncak pada konser penutup dua hari berturut – turut di kawasan Asram, menampilkan musisi Kunto Aji yang dikenal lewat karya – karyanya tentang kesehatan mental dan refleksi diri.

JCWF 2025 tidak sekadar festival hiburan, melainkan wadah untuk memperkenalkan kembali nilai – nilai budaya Jawa sebagai sarana penyembuhan dan keseimbangan diri. Berbagai kegiatan tradisional disajikan dengan pendekatan baru, seperti jemparingan menambahkan tradisional yang di kelas sebagai aktivitas untuk mengurangi stres hingga macapat seni tembang Jawa yang di gunakan sebagai metode meditasi.

Banyak kearifan lokal kita sebenarnya sudah mengandung unsur wellness, hanya saja selama ini belum di kontekstualkan dengan cara hidup masa kini. JCWF menjadi ruang, untuk memaknai kembali itu semua,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan festival ini juga membuka ruang bagi pelaku usaha lokal, untuk memamerkan produk wellness berbasis budaya, mulai dari jamu, minyak atsiri, sampai produk spa dan karya lokal. Setiap akhir pekan, pengunjung dapat menikmati wellness market yang menampilkan hasil karya masyarakat Yogyakarta dengan sentuhan kearifan lokal.

Dengan rangkaian acara yang menyatukan unsur budaya, pariwisata, dan kesehatan, JCWF 2025 di harapkan mampu menjadi magnet baru bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Lebih dari sekadar festival, kegiatan ini mencerminkan semangat Yogyakarta untuk menyeimbangkan antara tubuh, pikiran, dan budaya. Kami berharap JCWF bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain, dalam mengembangkan potensi wellness tourism berbasis budaya lokal,” pungkasnya.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *