https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Bentrok Berdarah di Lahan Sitaan Negara PT SIS, Korban Luka Parah Berjatuhan

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

BENGKALISKompassindonesinews.comBentrokan berdarah pecah di areal perkebunan PT Sinar Inti Sawit (SIS), Kabupaten Bengkalis, Selasa (22/12/2025), sejak siang hingga sore hari.

Insiden tersebut melibatkan pihak kerja sama operasi (KSO) PT Palma Agung Bertuah dengan karyawan PT SIS dan mengakibatkan sejumlah korban mengalami luka berat.

Informasi yang dihimpun, bentrokan terjadi di lahan perkebunan yang telah disita negara karena berada di kawasan hutan. Namun, bentrokan justru tak terhindarkan dan berujung pada aksi kekerasan brutal, termasuk dugaan penggunaan senjata tajam.
Tokoh pemuda Suku Sakai, Andika, menilai bentrokan tersebut sebagai peristiwa serius yang tidak bisa dipandang sebagai konflik biasa antar perusahaan.

“Bentrok ini mencerminkan perlawanan terbuka terhadap negara. Aset yang sudah disita justru dipertahankan dengan kekerasan hingga menimbulkan korban luka parah,” ujarnya, Selasa malam.
Ia mengungkapkan, sejumlah korban mengalami luka tusuk serius bahkan hingga kehilangan anggota tubuh. Menurutnya, skala kekerasan yang terjadi menunjukkan adanya pola tindakan terorganisir.

Andika mendesak aparat penegak hukum untuk segera turun tangan secara tegas, mulai dari mengamankan lokasi, menangkap pelaku bentrokan, hingga mengusut aktor intelektual yang diduga berada di balik peristiwa tersebut.

“Kekerasan ini tidak mungkin terjadi tanpa arahan. Aparat harus membongkar siapa yang memberi perintah,” tegasnya.
Selain itu, ia juga meminta Kejaksaan Tinggi Riau melakukan audit terhadap PT SIS yang diduga telah menimbulkan kerugian negara dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Pasca bentrokan, Andika mengimbau masyarakat Bathin Solapan agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan.

“Jangan sampai konflik ini meluas. Penegakan hukum harus menjadi jalan utama,” pungkasnya.

Penulis Harry

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *