https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Oknum Driver Ojol Ngaku Wartawan, Aniaya Mahasiswa Asal Pekalongan

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten SlemanKompassIndonesianews.com Seorang mahasiswa asal Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah (Jateng), mengalami perlakuan kasar dan kekerasan fisik saat menggunakan jasa salah satu penyedia transportasi ojek online (ojol) di kawasan Kapanewon/Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, beberapa hari yang lalu.

Kabar mengenai kekerasan yang dialami mahasiswi salah satu perguruan tinggi di DIY ini, viral di platform media sosial Facebook. Unggahan tersebut, dibagikan melalui akun EBudi Omponk dan telah dibagikan ulang sebanyak 18 kali.

” Dalam unggahan tersebut, korban mengaku mengalami kekerasan dari seorang driver Maxim Car yang juga mengaku dirinya sebagai wartawan.

Peristiwa tersebut terjadi di depan kos korban yang berlokasi di jalan Rusunawa Gambahan, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon/Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut pengakuan korban, kejadian tersebut bermula saat dirinya memesan layanan Maxim Car untuk perjalanan menuju pulang tempat kosnya.” Lanjutnya, sejak awal korban sudah merasa tidak nyaman karena menerima pesan dari driver yang dinilainya tidak sopan dan tidak pantas.

Setibanya di lokasi tujuan, korban bermaksud melakukan pembayaran secara tunai menggunakan uang pecahan Rp100.000. Namun, driver tersebut mengaku tidak memiliki uang kembalian. Lalu korban diminta oleh pelaku, untuk menukarkan uang tersebut di toko terdekat.

Karena saya anak perantau dari Pekalongan dan tidak mengenal daerah sekitar, saya meminta diantar ke toko terdekat tetapi beliau tidak mau,” ujar korban dalam unggahan EBudi Omponk, Senin, 2 Februari 2026.

Menurut korban, ia telah menawarkan alternatif pembayaran lain yaitu melalui transfer. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh driver. Merasa bingung dan tertekan, korban kemudian merekam kejadian tersebut sebagai bentuk dokumentasi.

Lebih lanjut, ia menerangkan situasi justru semakin memanas, driver tersebut tersulut emosi karena direkam oleh korban lalu marah – marah dan diduga melakukan kekerasan fisik terhadap korban.

Dengan adanya peristiwa ini menimbulkan trauma bagi korban dan memicu keprihatinan publik, khususnya terkait keamanan penumpang transportasi daring terutama bagi perempuan dan mahasiswa perantauan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Maxin Car maupun aparat penegak hukum terkait insiden tersebut. Korban berharap, kejadian ini serius agar tidak terulang pada penumpang lainnya.

Insiden ini telah mendapat perhatian dan tanggapan beragam dari berbagai komunitas masyarakat, diantaranya Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sleman, Yupiter Ome. Ia menyayangkan tindakan oknum driver ojol yang diduga melakukan kekerasan terhadap penumpangnya.

Selain itu, driver ojol tersebut mengaku wartawan. Hal ini perlu ditelusuri, karena tindakannya tidak pantas dan mencederai profesi wartawan. Kami berharap pihak kepolisian mengusut tuntas masalah ini, tutupnya.(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *