OPINI/SEJARAH
Banyak orang mengenal Jakarta sebagai hutan beton yang sibuk. Namun, jika kita menengok ke belakang, ada satu masa di mana kota ini hanyalah kumpulan “kampung besar” yang semrawut. Semua itu berubah ketika seorang pria bertubuh tegap dengan gaya bicara ceplas-ceplos dilantik menjadi Gubernur pada tahun 1966.
Dia adalah Ali Sadikin, atau yang lebih akrab kita panggil Bang Ali.
Seorang Marinir yang “Dibuang” ke Balai Kota
Ali Sadikin sebenarnya adalah perwira tinggi KKO (sekarang Marinir) TNI AL. Saat Presiden Soekarno menunjuknya menjadi Gubernur DKI Jakarta, banyak yang terheran-heran. Mengapa seorang prajurit laut diminta mengurus masalah selokan, macet, dan kemiskinan kota?
Namun Soekarno tahu persis nyali Ali Sadikin. “Ente musti keras, Ali. Urus Jakarta jangan pakai perasaan!” kira-kira begitu pesan Bung Karno. Dan benar saja, Bang Ali menjawab tantangan itu dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapapun.
Melahirkan Ancol dari Rawa dan TIM dari Ruang Gelap
Bayangkan Jakarta tanpa Taman Impian Jaya Ancol. Dahulu, kawasan itu hanyalah rawa-rawa penuh nyamuk yang dijuluki “tempat jin buang anak”. Di tangan Bang Ali, rawa tersebut disulap menjadi pusat rekreasi terbesar yang hingga kini menjadi tempat liburan jutaan keluarga.
Lalu, tengoklah Taman Ismail Marzuki (TIM). Sebelum ada TIM, para seniman Jakarta tidak punya rumah. Bang Ali—seorang militer yang sering dianggap kaku—justru membangun pusat kesenian megah di atas lahan bekas kebun binatang. Ia ingin Jakarta punya otak dan jiwa, bukan sekadar urusan perut.
Tak berhenti di situ, ia juga membidani lahirnya:
* Proyek Senen yang menjadi pusat ekonomi.
* Kebun Binatang Ragunan yang tertata.
* Pelestarian Budaya Betawi (Ondel-ondel dan Kerak Telor tidak akan seikonik sekarang tanpa campur tangannya).
Nyali di Tengah Kontroversi
Membangun kota besar butuh uang, sementara kas daerah saat itu kosong melompong. Di sinilah nyali Ali Sadikin diuji. Ia mengambil langkah paling radikal dalam sejarah Indonesia: Melegalkan judi dan memungut pajaknya untuk membangun sekolah.
“Kalau tidak mau lihat jalan bagus, tidak mau anak-anak sekolah, ya silakan haramkan uangnya,” tantangnya saat itu kepada para pengkritik. Ia tidak butuh pujian, ia butuh hasil. Dan hasilnya? Ribuan sekolah dasar berdiri, jalan-jalan diaspal, dan puskesmas menjangkau rakyat kecil.
Warisan Sang “Gubernur Rakyat”
Bang Ali berhenti menjabat pada 1977, namun warisannya tetap bernapas di setiap sudut Jakarta. Ia mengajarkan satu hal penting: Memimpin Jakarta bukan soal retorika manis, melainkan soal keberanian mengambil keputusan pahit demi kepentingan orang banyak.
Kini, sosoknya telah tiada (wafat pada 2008), namun semangatnya tetap hidup. Setiap kali kita melintasi megahnya Ancol atau menonton teater di TIM, kita sedang menikmati buah dari nyali “gila” seorang Ali Sadikin. (Wikipedia)
#AliSadikin #BangAli #GubernurJakarta #JakartaTempoDulu #SejarahJakarta #TokohBangsa #DKIJakarta














