https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Menguatkan Peran Penyuluh Agama dalam Pembinaan Warga Binaan di Momentum Pemasyarakatan 2026

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

kompasindknesianews.comBatam – Momentum Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 menjadi ruang refleksi yang tidak hanya menegaskan komitmen lembaga pemasyarakatan, tetapi juga menyoroti peran strategis para penyuluh agama dalam membina kehidupan spiritual warga binaan. Dengan mengusung tema “Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima,” peringatan tahun ini menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menghadirkan pembinaan yang humanis dan bermakna.

Di Kota Batam, kontribusi tersebut tergambar melalui kehadiran Nazahati Kosim, S.Ag, Penyuluh Agama Islam dari Kementerian Agama Kota Batam, yang mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam dalam menerima piagam penghargaan dari lembaga pemasyarakatan. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi dalam membina, membimbing, serta memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah warga binaan yang sedang menjalani proses pembinaan.

Penghargaan pertama diberikan oleh Rumah Tahanan Negara Kelas II Batam pada tanggal 27 April 2026. Momentum ini menjadi simbol apresiasi terhadap kesinambungan program pembinaan keagamaan yang selama ini telah berjalan secara konsisten. Selanjutnya, pada tanggal 28 April 2026, penghargaan serupa juga diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Batam sebagai pengakuan atas peran aktif dalam mendampingi warga binaan perempuan untuk menemukan kembali jati diri dan harapan hidup yang lebih baik.

Peran penyuluh agama dalam lingkungan pemasyarakatan tidak dapat dipandang sebagai tugas pelengkap semata. Kehadiran mereka justru menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran spiritual, menanamkan nilai moral, serta mendorong proses perubahan diri yang berkelanjutan. Melalui pendekatan yang persuasif dan edukatif, penyuluh agama mampu menghadirkan suasana pembinaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh aspek batiniah manusia.

Peringatan ini juga menghadirkan harapan kolektif agar seluruh penyuluh agama yang mengabdikan diri di berbagai lembaga pemasyarakatan, baik di rumah tahanan maupun lembaga pemasyarakatan termasuk lapas perempuan, mendapatkan perhatian dan apresiasi yang lebih luas. Penghargaan yang diberikan hendaknya menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus menjadi pemicu bagi lembaga terkait untuk lebih serius dalam mendukung program pembinaan keagamaan.

Dengan demikian, semangat kerja nyata dan pelayanan prima tidak berhenti sebagai jargon seremonial, melainkan menjelma menjadi gerakan nyata yang berdampak langsung bagi kehidupan warga binaan. Di tangan para penyuluh agama yang berdedikasi, pemasyarakatan menemukan makna sejatinya sebagai proses pemulihan, pembinaan, dan pengembalian manusia kepada fitrah kemanusiaannya yang luhur.

(Nursalim Turatea).

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *