Kabupaten Sleman – KompassIndonesianews.com Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, melalui Kepala Bindang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ponidi, menjelaskan pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pendidikan mulai mematangkan persiapan teknis guna memastikan transisi jenjang pendidikan dasar ke menengah berjalan tanpa gejolak,” katanya Kamis 7 Mei 2026.
Ia menerangkan sistem tahun ini, kami rancang untuk memastikan tidak ada satu pun anak di Kabupaten Sleman yang kehilangan haknya untuk mengakses pendidikan berkualitas.
” Kami menyeimbangkan antara kedekatan geografis, keberpihakan sosial, hingga apresiasi terhadap prestasi,” bebernya di depan puluhan wartawan.
Ponidi, menambahkan kebijakan tahun ini, tetap menempatkan jalur domisili sebagai pilar utama dengan kuota paling sedikit empat puluh persen dari total daya tampung sekolah. Langkah ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mendekatkan layanan pendidikan dengan tempat tinggal siswa, demi efisiensi dan pengawasan orang tua yang lebih maksimal,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa jalur domisili ini di pertajam menjadi dua kategori krusial, yakni domisili radius dan domisili wilayah.
Melalui jalur radius, sistem secara otomatis akan menghitung jarak udara yang presisi antara hunian siswa dengan sekolah tujuan menggunakan teknologi pemetaan digital. ” Sementara itu, jalur domisili wilayah hadir untuk mengakomodasi siswa yang menetap di wilayah administratif Kalurahan tertentu. Kami mensyaratkan calon siswa telah terdaftar sebagai penduduk Kabupaten Sleman, minimal satu tahun. Ini penting untuk menjaga integritas data kependudukan, dan memastikan warga lokal mendapatkan prioritas utama.
Kabag Pembina SMP ini juga menambahkan bahwa kuota lima persen juga disediakan khusus bagi penyandang disabilitas, namun terdapat prosedur penting yang harus dilalui demi kenyamanan belajar siswa nantinya.
” Calon siswa berkebutuhan khusus, wajib mengikuti asesmen di RSUD Sleman dan RSUD Prambanan yang dijadwalkan sepanjang bulan Mei 2026. Asesmen ini bukan untuk menghambat, melainkan agar sekolah penerima dapat mempersiapkan fasilitas pendukung, alat bantu, hingga pola pendampingan yang sesuai dengan profil kebutuhan belajar masing – masing siswa sejak hari pertama mereka masuk belajar,” pungkasnya.(Joni)














