https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Parikesit, Desa Terdingin di Dieng: Misteri Candi Terkubur Mulai Terungkap

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

WONOSOBO, —Kompassindonesianews.com   Nama Desa Parikesit selama ini lebih dikenal sebagai pintu gerbang menuju kawasan wisata Dieng. Namun di balik kabut tebal yang nyaris tak pernah benar-benar pergi, desa di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo itu ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar panorama pegunungan. 17 Mei 2026

Berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, Parikesit dikenal sebagai salah satu desa terdingin di kawasan Dieng. Saat musim kemarau tiba, fenomena embun es atau bun upas kerap muncul dan membekukan tanaman pertanian warga hanya dalam semalam.

Bagi para petani kentang dan sayuran, cuaca ekstrem bukan sekadar keunikan alam, melainkan ancaman nyata bagi penghasilan mereka. Ladang yang sehari sebelumnya hijau, bisa berubah layu diselimuti kristal es keesokan paginya.

Namun dinginnya udara Parikesit ternyata tidak mampu membekukan berbagai cerita misterius yang terus hidup di tengah masyarakat.

Sejumlah warga meyakini ada beberapa titik di desa yang dianggap wingit atau sakral. Lokasi-lokasi tertentu dipercaya tidak boleh dilalui sembarangan, terutama saat malam hari. Kepercayaan itu masih dijaga hingga kini, berdampingan dengan derasnya arus wisatawan yang terus masuk ke kawasan Dieng.

Yang paling menarik perhatian adalah pengakuan warga terkait penemuan bebatuan mirip struktur candi saat menggali tanah untuk pondasi rumah maupun sumur.

“Kalau gali tanah kadang ketemu batu seperti batu candi. Tapi biasanya ditimbun lagi,” ujar salah satu warga Parikesit, Minggu (17/5/2026).

Batu-batu tersebut disebut memiliki bentuk khas menyerupai material bangunan kuno. Temuan itu memunculkan dugaan bahwa kawasan Parikesit kemungkinan pernah menjadi bagian dari kompleks bangunan kuno atau situs peradaban lama yang kini tertimbun tanah akibat perubahan alam dan aktivitas vulkanik Dieng selama ratusan tahun.

Hingga kini memang belum ada penelitian resmi yang memastikan dugaan tersebut. Namun cerita mengenai “candi yang terkubur” terus berkembang dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

Warga pun memilih menimbun kembali batu-batu yang ditemukan. Selain untuk menjaga kelestarian, mereka khawatir keberadaan benda yang diduga kuno itu justru mengundang pencurian atau perusakan oleh pihak tak bertanggung jawab.

Di sisi lain, wajah Parikesit kini berubah cepat. Desa yang dahulu dikenal tenang perlahan menjelma menjadi desa penyangga wisata Dieng. Homestay mulai bermunculan, warung-warung ramai, dan wisatawan berdatangan untuk berburu panorama sunrise dari dataran tinggi.

Perputaran ekonomi meningkat, tetapi perubahan sosial mulai terasa di tengah kehidupan masyarakat pegunungan yang sebelumnya hidup sederhana dan tenang.

Nama “Parikesit” sendiri dipercaya berasal dari tokoh Parikesit dalam epos Mahabharata, sosok pemimpin yang dikenal bijaksana. Filosofi itu kini seakan diuji oleh derasnya modernisasi dan tekanan industri wisata yang terus berkembang.

Parikesit hari ini bukan lagi sekadar desa dingin di kaki Dieng. Ia menjelma menjadi potret benturan antara alam ekstrem, kisah mistis, dugaan jejak sejarah yang terpendam, dan geliat ekonomi wisata yang terus memanas di dataran tinggi Wonosobo.

Setiawan

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *