https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Ketika Hati Lupa Bersyukur, Hidup Terasa Selalu Kurang

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

OPINI

Oleh Dr. NursalimTinggi, S. Pd.,M.Pd

Ketua Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da,i Kamtibmas Polda Kepri | Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Provinsi Kepulauan Riau | Ketua Fahmi Tamami Kota Batam | Ketua Pendiri Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia | Gubernur Anak Berani Karena Benar (ABEKABER) Provinsi Kepulauan Riau

 

Di zaman modern yang penuh persaingan, banyak manusia mengukur keberhasilan hidup dari apa yang tampak di mata dunia. Jabatan dianggap lambang kehormatan, kekayaan dipandang sebagai ukuran kebahagiaan, dan popularitas sering dijadikan tanda kesuksesan. Akibatnya, manusia terus berlomba mengejar pengakuan tanpa benar-benar memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh hati mereka sendiri.

Tidak sedikit orang bekerja tanpa mengenal waktu demi mendapatkan kehidupan yang dianggap lebih sempurna. Mereka rela mengorbankan ketenangan, kesehatan, bahkan kebersamaan dengan keluarga hanya demi memenuhi standar kehidupan yang terus berubah. Namun anehnya, setelah semua berhasil diraih, hati tetap terasa kosong. Ada kegelisahan yang tidak mampu dibeli dengan uang dan ada kesepian yang tidak dapat dihapus oleh keramaian.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan sekadar tentang banyaknya harta atau tingginya pencapaian hidup. Hati manusia pada dasarnya membutuhkan ketenangan, rasa syukur, kasih sayang, dan tujuan hidup yang jelas. Ketika manusia hanya sibuk mengejar dunia tanpa menjaga batin, maka hidup akan terasa melelahkan walaupun dipenuhi kemewahan.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, manusia sering lupa menikmati hal-hal sederhana yang sebenarnya sangat berharga. Duduk bersama keluarga tanpa pertengkaran, memiliki tubuh yang sehat, bisa tidur dengan tenang, memiliki sahabat yang tulus, dan hidup tanpa rasa iri merupakan nikmat besar yang sering tidak disadari. Banyak orang baru memahami nilai ketenangan setelah hidup mereka dipenuhi masalah dan kehilangan.

Media sosial turut memperbesar rasa tidak puas dalam diri manusia. Kehidupan orang lain yang terlihat sempurna membuat banyak orang sibuk membandingkan dirinya sendiri. Setiap hari manusia disuguhi kemewahan, pencapaian, dan kebahagiaan orang lain yang seolah tanpa cela. Padahal tidak semua yang terlihat indah di depan kamera benar-benar menggambarkan kenyataan hidup yang sebenarnya. Banyak orang tersenyum di hadapan publik sambil menyimpan beban yang berat dalam hatinya.

Karena terlalu sering membandingkan diri, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk bersyukur. Apa yang dimiliki terasa kurang hanya karena melihat milik orang lain lebih banyak. Padahal rasa cukup bukan lahir dari banyaknya harta, melainkan dari kemampuan hati menerima dan menghargai kehidupan.

Dalam keadaan seperti inilah bahasa dan agama menjadi dua fondasi penting yang menjaga manusia agar tidak kehilangan arah hidup. Bahasa bukan hanya alat berbicara, tetapi juga cermin akhlak dan kepribadian seseorang. Kata-kata yang lembut mampu menenangkan hati, mempererat hubungan keluarga, serta menjaga persaudaraan di tengah masyarakat. Sebaliknya, ucapan yang kasar dan penuh kebencian sering menjadi penyebab rusaknya hubungan antarmanusia.

Budaya timur, khususnya budaya Melayu, mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang dapat terlihat dari tutur katanya. Kesantunan bahasa menunjukkan kedewasaan hati dan penghormatan kepada sesama. Karena itu, menjaga bahasa berarti menjaga marwah diri dan nilai budaya yang diwariskan leluhur.

Selain bahasa, agama menjadi penuntun utama dalam kehidupan manusia. Agama mengajarkan bahwa hidup di dunia bukan sekadar tentang mengejar materi, tetapi juga tentang memperbaiki hati dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Manusia yang memiliki pegangan agama akan lebih kuat menghadapi ujian hidup karena ia memahami bahwa tidak semua kebahagiaan harus diukur dengan kemewahan.

Agama juga mengajarkan arti syukur yang sesungguhnya. Bersyukur bukan hanya ketika memiliki banyak, tetapi tetap mampu merasa cukup walaupun hidup sederhana. Orang yang hatinya dipenuhi rasa syukur akan lebih mudah merasakan ketenangan dibanding mereka yang selalu dikuasai ambisi tanpa batas.

Hidup yang terlalu mengejar dunia sering membuat manusia lupa pada dirinya sendiri. Banyak orang terlihat berhasil, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga. Banyak yang memiliki kekayaan melimpah, tetapi tubuhnya sakit karena terlalu memaksakan diri. Bahkan ada yang dikenal banyak orang, tetapi sebenarnya hidup dalam kesepian yang mendalam.

Karena itu, manusia perlu memahami bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang dipenuhi kemewahan semata, melainkan hidup yang seimbang antara kebutuhan dunia dan ketenangan jiwa. Bekerja keras memang penting, tetapi menjaga hati agar tetap tenang jauh lebih penting. Mengejar cita-cita adalah hal baik, tetapi jangan sampai kehilangan rasa syukur dalam perjalanan hidup.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati lahir ketika manusia mampu menerima hidup dengan lapang, menjaga hubungan baik dengan sesama, menggunakan bahasa yang santun, serta mendekatkan diri kepada Tuhan dalam setiap keadaan. Sebab hati yang dipenuhi syukur akan selalu menemukan ketenangan, meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *