Naskah Opini
Jakarta, 19 Mei 2026 Ada satu kalimat sederhana dari guru semasa sekolah yang dulu terdengar biasa saja, namun semakin dewasa justru terasa sangat dalam maknanya:
*”Yang sudah selesai ujiannya, boleh pulang.”*
Dulu kalimat itu hanya terdengar sebagai tanda kebebasan. Siapa yang selesai lebih cepat, dia boleh meninggalkan kelas lebih dulu. Tidak perlu lagi duduk tegang menatap lembar soal. Tidak perlu lagi berpikir keras mencari jawaban.
Namun ternyata, hidup pun bekerja dengan cara yang hampir sama.
Dunia ini sesungguhnya adalah ruang ujian besar bagi manusia. Ada yang diuji dengan kekurangan, ada yang diuji dengan kelebihan. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada pula yang diuji dengan keberhasilan. Tidak semua soal hidup berbentuk kesedihan, sebab kadang kenyamanan juga merupakan ujian yang paling sulit disadari.
Lalu satu per satu manusia mulai “dipanggil pulang”.
Ketika mendengar kabar seseorang meninggal dunia, mungkin sebenarnya ia telah menyelesaikan ujiannya. Sedangkan kita yang masih tinggal di bumi, artinya masih ada soal yang harus dijawab, masih ada pelajaran yang belum selesai, masih ada kesabaran yang sedang dinilai, dan masih ada tanggung jawab yang harus dituntaskan.
Kadang kita lelah menjalani hidup. Merasa dunia terlalu berat, keadaan terlalu sulit, dan harapan terasa jauh. Tetapi mungkin justru di situlah inti ujiannya. Sebab tidak ada peserta ujian yang diberikan soal tanpa tujuan. Semua ada nilainya, semua ada hikmahnya.
Menariknya, manusia sering sibuk membandingkan lembar jawaban hidupnya dengan orang lain. Padahal setiap orang memiliki paket soal yang berbeda. Ada yang diuji dalam waktu singkat, ada yang panjang. Ada yang tampak mudah, ada yang penuh air mata. Maka tidak perlu iri pada kehidupan orang lain, karena bisa jadi kita tidak akan sanggup mengerjakan soal yang mereka hadapi.
Hidup juga mengajarkan bahwa tidak semua orang pulang di waktu yang sama. Ada yang lebih dulu meninggalkan ruang ujian, ada yang masih harus bertahan hingga waktu benar-benar habis. Dan selama kita masih diberi napas hari ini, berarti Tuhan masih percaya bahwa kita mampu menyelesaikan ujian yang sedang dijalani.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyerah.
Kalau hari ini hidup terasa berat, mungkin nilainya memang sedang besar. Kalau hari ini hati terasa lelah, mungkin kita sedang naik tingkat dalam pelajaran kehidupan. Dan kalau hari ini kita masih bangun pagi, masih bisa melihat langit, masih bisa membaca tulisan ini, itu berarti kita belum selesai.
Bel pulang kita belum berbunyi.
Maka jalani hidup dengan lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih kuat. Sebab pada akhirnya, semua manusia akan pulang. Hanya waktunya saja yang berbeda.
Dan ketika waktunya tiba, semoga kita pulang dalam keadaan telah menyelesaikan ujian dengan jawaban terbaik yang kita mampu.
Mursalih














