Naskah Opini
Jakarta 21/05/2026
Ada satu kebiasaan yang makin sering dianggap biasa di zaman sekarang: merendahkan orang lain. Kadang dibungkus candaan, kadang diselipkan dalam komentar, kadang dilakukan terang-terangan demi merasa lebih hebat. Ironisnya, banyak orang lupa bahwa dirinya sendiri juga manusia—makhluk yang sama-sama punya salah, luka, gagal, dan jatuh.
Kita terlalu mudah menilai hidup orang dari permukaannya saja. Melihat seseorang belum berhasil, lalu menganggap dirinya tidak layak dihargai. Melihat seseorang berbeda cara bicara, penampilan, pekerjaan, atau latar belakang, lalu merasa lebih tinggi. Padahal hidup bukan perlombaan siapa paling sempurna. Semua orang sedang bertahan dengan caranya masing-masing.
Ada orang yang terlihat lemah, tapi diam-diam sedang berjuang menyelamatkan hidupnya. Ada yang tampak biasa saja, tapi setiap hari melawan rasa sakit yang tidak pernah ia ceritakan. Dan ada yang sering diremehkan, justru memiliki hati paling kuat dibanding mereka yang sibuk menghina.
Merendahkan orang lain tidak pernah membuat seseorang benar-benar naik derajat. Yang terlihat justru kecilnya cara berpikir dan miskinnya empati. Sebab orang yang benar-benar besar biasanya tahu cara menghargai manusia lain, bahkan ketika dirinya berada di posisi lebih tinggi.
Hidup juga punya cara unik untuk mengajarkan manusia tentang rasa. Hari ini seseorang bisa berada di atas, besok keadaan bisa berbalik tanpa aba-aba. Maka jangan terlalu bangga saat mampu menertawakan orang lain. Sebab roda kehidupan tidak pernah berputar hanya untuk satu orang saja.
Kadang kita lupa, ucapan yang dianggap sepele bisa tinggal lama di kepala seseorang. Kalimat meremehkan bisa menghancurkan kepercayaan diri, mematahkan semangat, bahkan meninggalkan luka bertahun-tahun. Tidak semua orang kuat menghadapi hinaan dengan tertawa. Ada yang pulang membawa sakit tanpa suara.
Menjadi manusia seharusnya membuat kita lebih paham arti menghargai, bukan malah merasa paling tinggi. Karena pada akhirnya, yang paling dikenang dari seseorang bukan seberapa kaya, pintar, atau terkenalnya dia, melainkan bagaimana caranya memperlakukan manusia lain.
Kalau belum bisa membantu orang, setidaknya jangan merendahkannya. Karena dunia sudah cukup keras tanpa perlu ditambah manusia yang kehilangan hati.














