OPINI
JAKARTA:24 MEI 2026
Sebentar lagi 9 Dzulhijjah tiba. Hari yang selalu ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia, terutama para jamaah haji yang sedang bersiap menuju puncak ibadah mereka: wukuf di Padang Arafah.
Di sanalah jutaan manusia berdiri dalam keadaan yang sama. Tidak ada perbedaan jabatan, kekayaan, ataupun kedudukan. Semua memakai kain ihram sederhana. Semua membawa doa. Semua datang dengan harapan yang sama: pulang sebagai manusia yang lebih bersih.
Padang Arafah bukan sekadar hamparan tanah di Arab Saudi. Ia adalah tempat paling emosional dalam perjalanan haji. Tempat air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Tempat manusia benar-benar merasa kecil di hadapan Tuhan.
Bayangkan jutaan orang mengangkat tangan bersamaan. Ada yang menangis karena dosa masa lalu. Ada yang memohon kesehatan untuk keluarganya. Ada yang meminta kehidupan yang lebih baik. Bahkan ada yang hanya mampu diam karena hatinya terlalu penuh oleh rasa haru.
Wukuf mengajarkan bahwa manusia sejatinya sama. Yang membedakan hanyalah ketulusan hati dan amalnya. Di Padang Arafah, semua gelar dunia runtuh. Yang tersisa hanyalah seorang hamba dan Tuhannya.
Karena itu, 9 Dzulhijjah selalu menghadirkan getaran yang berbeda. Tidak hanya bagi mereka yang berhaji, tetapi juga bagi umat Islam yang menyaksikan dari jauh. Ada rasa rindu, harapan, dan doa yang ikut terbang menuju Arafah.
Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar dunia. Ada saat di mana manusia perlu berhenti sejenak, merenung, memperbaiki diri, dan kembali mendekat kepada Allah.
Wukuf bukan hanya ritual. Ia adalah simbol perjumpaan manusia dengan dirinya sendiri. Sebuah perjalanan batin yang mengajarkan arti sabar, ikhlas, dan penghambaan.
Sebentar lagi jutaan jamaah akan berdiri di Padang Arafah. Dan dunia akan kembali menyaksikan salah satu pemandangan paling indah: manusia-manusia yang datang dengan dosa, lalu pulang membawa harapan ampunan.
Karena pada akhirnya, setiap hati selalu ingin kembali bersih.
Mursalih














