https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Wakil Bupati Sleman, Keluarga Memiliki Peran Penting Memutus Rantai Penularan TBC

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Kabupaten SlemanKompassIndonesianews.com Pemerintah Kabupaten Sleman terus berkomitmen untuk menekan angka stunting dan TBC, hingga tingkat Kalurahan. Hal itu disampaikan oleh Wakil Bupati Kabupaten Sleman sekaligua Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Kabupaten Sleman, Danang Maharsa, saat melaksanakan diskusi bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman untuk menyosialisasikan pencegahan stunting dan TBC, bertempat di Rumah Dinas Bupati Kabupaten Sleman, Kamis 18 Juni 2026.

Wakil Bupati Sleman menyebut, Tim Penggerak PKK menjadi mitra strategis untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya mencegah stunting sejak dini.

Lanjutnya, masing – masing kelompok kerja memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat, mulai dari peran pengolahan asuh, peran pendidikan keluarga, ketahanan pangan, hingga perbaikan sanitasi lingkungan,” jelasnya.

” Untuk mencegah stunting tidak dilakukan saat ibu sudah mengandung, bahkan sudah harus kita lakukan jauh sebelum itu, yaitu sejak calon ibu masih dalam masa remaja. Hal ini penting untuk kita pahami,” tambah Danang.

Begitu pula dengan TBC, ia menyebut keluarga memiliki peran penting untuk memutus rantai penularan TBC. Untuk itu, sinergi dan kolaborasi TP-PKK Kabupaten Sleman hingga tingkat Kalurahan memiliki kedudukan penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat.

” Jangan lupa juga dengan penguatan layanan posyandu, posyandu bisa menjadi media yang baik untuk menyampaikan edukasi kepada orang tua agar memahami langkah yang tepat untuk membangun keluarga yang kuat,” tutup Wakil Bupati Danang Maharsa.

” Sementara itu, Ketua TP-PKK Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya, menjelaskan angka prevalensi stunting di Kabupaten Sleman pada tahun 2025 sebesar 4,29 persen. Data ini menurun dari tahun 2024 yang mencapai 4,42 persen, sedangkan untuk jumlah kasus TB pada tahun 2025 tercatat menyentuh angka 2.542 kasus.

” Meski begitu, bukan berarti kita harus lega dan menjadi lengah. Kita harus terus melakukan pencegahan stunting dan TBC, begitu juga dengan pendampingan terhadap keluarga yang terjangkit TB.” Kata Parmilah, dibutuhkan kerjasama seluruh pihak untuk menyatukan komitmen dalam menekan stunting dan TBC,” bebernya.

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *