https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Petani, Nelayan, Buruh, Mahasiswa, Pengusaha hingga Media Masuk dalam Jaringan Besar ETH — Sekadar Ekspansi Ormas atau Sedang Lahir Kekuatan Sosial Baru?

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

HAMBALANG, Kompassindonesianews.com — Dari Hambalang, sebuah konsolidasi besar mulai dibangun.

Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (ETH) mengambil langkah yang berpotensi mengubah skala gerakan organisasinya dengan membentuk delapan badan otonom, sayap, dan unit organisasi yang menjangkau sejumlah kelompok strategis masyarakat.

Bukan hanya mahasiswa.

Bukan hanya petani dan nelayan.

Buruh, pekerja, pengusaha, koperasi, komunitas seni dan olahraga hingga unsur media ikut berada dalam arsitektur besar organisasi tersebut.

Pertanyaannya kini:

Ke mana arah kekuatan besar yang sedang dikonsolidasikan dari Hambalang ini?

Hambalang Mulai Bergerak

Konsolidasi tersebut mempunyai dasar resmi melalui Keputusan DPN Elang Tiga Hambalang Nomor 004/SK/DPN-ETH/SKPBOSUO-ETH/VI/2026 tentang Pembentukan Badan Otonom, Sayap, dan Unit Organisasi di Lingkungan Perkumpulan Elang Tiga Hambalang.

Delapan perangkat yang dibentuk meliputi Jaringan Koperasi Serba Usaha, Satuan Mahasiswa, Satuan Nelayan, Satuan Petani, Satuan Pecinta Seni dan Olahraga, Serikat Buruh dan Pekerja, Asosiasi Pengusaha, serta Wartawan dan Wartawati PT Elang Tiga Media Nusantara.

Secara administratif, ini merupakan keputusan organisasi.

Tetapi jika dibaca dari perspektif politik kebangsaan, konfigurasi kelompok yang dihimpun membuat langkah tersebut sulit dipandang hanya sebagai penambahan struktur.

ETH sedang masuk ke ruang-ruang strategis masyarakat.

Petani, Buruh, Nelayan dan Mahasiswa: Siapa Menguasai Akar Rumput?

Dalam setiap dinamika politik nasional, kekuatan akar rumput selalu mempunyai posisi penting.

Petani membawa isu pangan dan kesejahteraan desa.

Nelayan membawa persoalan ekonomi maritim.

Buruh dan pekerja membawa isu ketenagakerjaan.

Mahasiswa mempunyai tradisi sebagai kekuatan kritis sekaligus sumber kader.

Pengusaha dan koperasi merupakan bagian dari mesin ekonomi.

Media berada di arena pembentukan informasi dan opini publik.

Kini seluruh kelompok tersebut berada dalam desain besar konsolidasi Elang Tiga Hambalang.

Karena itu, pertanyaan politiknya bukan lagi sekadar berapa banyak sayap yang dibentuk, tetapi seberapa besar basis masyarakat yang nantinya mampu dihimpun dan digerakkan ETH?

Mesin Organisasi Dibangun Sampai Desa

Yang membuat langkah ETH semakin menarik adalah desain struktur organisasinya.

Sejumlah sayap memiliki jenjang DPN, DPP, DPK, Koordinator Kecamatan hingga Koordinator Desa/Kelurahan.

Artinya, ETH tidak hanya membangun struktur di Jakarta atau tingkat elite.

Mesin organisasi diarahkan sampai ke akar rumput.

Jika struktur tersebut benar-benar terbentuk secara luas, maka ETH berpotensi memiliki jalur konsolidasi vertikal dari desa, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi hingga kepemimpinan nasional.

Dalam politik, jaringan semacam itu merupakan modal sosial yang tidak kecil.

Siapa yang mampu membangun kepercayaan di akar rumput, mempunyai peluang lebih besar membuat suaranya didengar di tingkat nasional.

Satu Komando dari DPN

Di tengah ekspansi tersebut, DPN tidak melepaskan kendali strategis.

Hubungan DPN dengan seluruh badan otonom, sayap, dan unit organisasi dibangun berdasarkan prinsip satu komando kebijakan umum, koordinasi program, otonomi pengelolaan bidang, pembinaan berjenjang serta pertanggungjawaban organisasi.

Bahkan tindakan yang mengatasnamakan ETH dan mempunyai dampak nasional, strategis, hukum, politik organisasi, keuangan, aset, kerja sama kelembagaan atau reputasi organisasi wajib memperoleh persetujuan tertulis DPN.

Pesannya kuat:

Sayap bergerak, tetapi komando strategis tetap satu.

Apakah ETH Sedang Menyiapkan Kendaraan Politik?

Pertanyaan itu mungkin muncul ketika melihat besarnya jaringan yang sedang dibangun.

Namun dokumen keputusan tersebut tidak menyatakan pembentukan partai politik, kendaraan pemilu, dukungan kepada calon tertentu, ataupun afiliasi kepada partai politik tertentu.

Karena itu, terlalu dini menyimpulkan ETH sedang menuju arena elektoral.

Yang dapat dibaca secara jelas adalah pembangunan infrastruktur sosial-organisasional lintas sektor.

Dan dalam demokrasi, kekuatan seperti itu tetap mempunyai nilai politik.

Sebuah organisasi tidak harus menjadi partai untuk mempunyai posisi tawar.

Ketika mempunyai anggota, jaringan daerah, kader, kemampuan advokasi serta akses langsung terhadap persoalan masyarakat, suaranya dapat menjadi sesuatu yang diperhitungkan oleh banyak pihak.

H. Safrizal–Ganda Satria Dharma Pegang Kendali Konsolidasi

Keputusan besar tersebut ditetapkan di Hambalang pada 30 Juni 2026 dan ditandatangani Ketua Umum H. Safrizal bersama Sekretaris Jenderal Ganda Satria Dharma.

Kini tantangan kepemimpinan ETH adalah mengubah struktur di atas kertas menjadi kekuatan nyata.

Apakah kepengurusan daerah terbentuk?

Apakah kaderisasi berjalan?

Apakah petani, nelayan, buruh dan mahasiswa benar-benar mendapatkan manfaat?

Apakah organisasi mampu membawa aspirasi masyarakat dari desa menuju pusat?

Di situlah konsolidasi ini akan diuji.

Jangan Remehkan Gerakan dari Akar Rumput

Sejarah politik selalu memperlihatkan satu pelajaran: kekuatan besar tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan.

Sering kali ia tumbuh perlahan dari jaringan masyarakat.

Hari ini mungkin berbentuk konsolidasi organisasi.

Besok dapat berkembang menjadi kekuatan aspirasi.

Dan ketika jaringan tersebut mampu menyatukan suara masyarakat dalam jumlah besar, siapa pun yang berada dalam ruang kebijakan publik akan sulit mengabaikannya.

Karena itu, pertanyaan yang mulai layak diajukan bukan lagi:

“Apa itu Elang Tiga Hambalang?”

Melainkan:

“Seberapa besar kekuatan yang sedang dibangun Elang Tiga Hambalang?”

Dari Hambalang, mesin organisasi mulai dipanaskan.

Dari desa, basis mulai dibangun.

Petani, nelayan, buruh, mahasiswa, pengusaha dan berbagai elemen masyarakat mulai dihimpun dalam satu jaringan.

Hari ini konsolidasi.

Besok, siapa tahu ETH menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil yang ikut menentukan arah perdebatan nasional.

ELANG TIGA HAMBALANG

MEMPERJUANGKAN — MEMANUSIAKAN —

Rudolf

Narasumber Ganda Satria Dharma Sekjen Elang Tiga Hambalang

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *