Garut, Kompassindonesianews.com Sorak ribuan Bobotoh pecah ketika bek Persib Bandung Julio Cesar muncul sebagai pahlawan kemenangan lewat gol pada menit 90+7 saat menghadapi PSM Makassar, Minggu malam, 17 Mei 2026 lalu. Gol di penghujung laga itu bukan hanya memastikan kemenangan bagi Maung Bandung, tetapi juga menjaga asa Persib untuk menorehkan sejarah tiga kali berturut-turut menjadi juara kasta tertinggi sepak bola di Indonesia.
Malam itu Bandung benar-benar membiru. Euforia kemenangan mengalir di setiap sudut kota, mulai dari gang-gang kecil, warung kopi pinggir jalan, hingga Jembatan Pasupati. Suara klakson motor tiada henti dibunyikan.
Di Jawa Barat, mendukung Persib bukan sekadar soal pertandingan 90 menit. Kecintaan itu hidup dalam cerita keluarga, diwariskan dari generasi ke generasi, dari kakek kepada ayah, lalu kepada anak dan cucu.
Di tengah kerumunan dan sorak sorai euforia saat itu, seorang anak kecil, Mochamad Zalu Fauzan (8 tahun), duduk di pundak ayahnya sambil menggenggam syal bertuliskan Persib Bandung. Ia benar-benar terlihat bahagia.
Kecintaan kepada Persib bahkan lahir sebelum seorang anak benar-benar memahami arti sepak bola. Rasa itu tumbuh lewat cerita sang ayah, suara riuh tribun stadion hingga seragam berwarna biru yang terus diwariskan.
“Mengenal Persib dari sang ayah. Kata ayah sejak usia satu tahun saya suka diajak nonton pertandingan di GBLA. Kalau saya dulu diajak ke stadion mah senang saja. Walaupun belum ngerti bola, tapi di stadion banyak jajanan, banyak pedagang. Jadi awalnya saya senang jajanannya dulu,” kata Mochamad Zalu Fauzan.
Seiring waktu, pengalaman itu berubah menjadi kecintaan mendalam kepada Persib. Yang paling dia ingat, kecintaan itu tumbuh secara natural tanpa paksaan.
“Ayah saya tidak pernah bilang, Zalu harus dukung Persib. Tidak pernah begitu. Tapi dari pengalaman itu, saya ikut mendukung Persib karena ayah juga mendukung Persib,” ujar Zalu di Cafe Bumi Kopi, Sekretariat Bobotoh Kolot (Boboko) Distrik Garut, Jalan Otista, Tarogong Kidul, Sabtu (15/08/2026).
Hal tersebut tidak terlepas dari cerita hidup dalam perjalanan panjang orang tua Mochamad Zalu Fuzan, yakni Heri Suheri atau yang akrab disapa Wak Zalu. Bobotoh asal Bandung yang kini tinggal di Kampung Cikancung RT03/01, Desa Margalaksana, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut tersebut telah mendukung Persib sejak era perserikatan.
Bagi Wak Zalu, mendukung Persib bukan perkara uang atau keadaan. Pada 1990-an, ia rela naik pohon bahkan ikut orang lain yang tidak dikenal demi menyaksikan pertandingan Persib secara langsung di Stadion Siliwangi. Ia masih mengingat deretan pemain yang membesarkan kecintaannya kepada Persib, mulai dari Ajat Sudrajat, Robby Darwis, hingga kiper Sobur.
Ketika Persib menjuarai kompetisi Liga Indonesia 1994, Wak Zalu ikut merayakannya dengan penuh euforia di Jakarta kala itu.
“Saya sampai pura-pura menjadi tukang koran untuk datang ke senayan. Tapi tetap, namanya cinta Persib. Senangnya susah dibayangkan. Disamping itu, saya juga selalu mengajari Zalu bagaimana menjadi bobotoh yang santun, yang tak perlu lagi mengartikan militansi secara “die hard” dan tak perlu lagi melakukan manuver dalam rangka mencari jati diri melalui sepak bola,” ujarnya.
Kini, puluhan tahun berlalu, kecintaan itu tetap hidup dan diwariskan kepada anak-anak hingga cucunya. Bagi Wak Zalu, Persib sudah menjadi bagian dari hidup yang sulit dipisahkan.
“Persib tidak hanya dipandang sebagai klub sepak bola, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Kecintaan itu kemudian tumbuh menjadi kultur yang diwariskan secara alami di dalam keluarga. Dari kakek ke ayah, lalu ke saya, lalu ke anak saya, itu terus terjadi. Jadi memang ini budaya bagi saya dan keluarga,” jelasnya.
Di berbagai sudut Jawa Barat, anak tumbuh bersama cerita kemenangan Persib, suara riuh tribun stadion, hingga perjalanan menapaki stadion bersama orang tua mereka. Tradisi itu terus bertahan meski zaman berubah.
Dulu, masyarakat mengenal Persib lewat siaran radio dan koran. Kini generasi muda mengikuti perkembangan klub melalui media sosial. Namun, satu hal tetap sama; rasa cinta itu tetap diwariskan.
Bahkan, di tengah modernisasi sepak bola Indonesia, Persib tetap menjadi ruang emosional bagi masyarakat Jawa Barat untuk merasa terhubung satu sama lain. Bagi sebagian orang, Persib adalah hiburan. Namun bagi bobotoh, Persib adalah identitas.
“Saya meyakini, bobotoh bukan sekadar suporter. Mereka adalah penafsir hidup lewat sepak bola,” tandas Wak Zalu, yang juga menjabat sebagai bendahara di kepengurusan Boboko Distrik Garut.
Menurut pemain Persib, Adam Alis, memang harus ada hubungan yang baik antara suporter dan pemain. Ada satu yang sangat disukainya, yaitu suporter anak-anak. Menurutnya, anak-anak murni menumpahkan dukungan karena mengidolakan sang pemain, dan itu adalah alasannya selalu menyambut suporter cilik dengan tangan terbuka dan tak pernah menolak diajak berfoto bersama.
“Suporter anak kecil kebanyakan mengidolakan pemain sepak bola karena mereka pun ingin menjadi pemain sepak bola. Saya selalu ingin menjadi contoh yang bagus, bukan hanya di lapangan, tapi juga di luar lapangan,” ujar Adam kepada hariangarut.news saat berkunjung ke Stadion RAA. Adiwidjaya Garut beberapa waktu lalu.
Cinta itu tampaknya akan terus diwariskan di Tanah Pasundan, dari tribun Stadion Siliwangi di masa lalu hingga riuh Stadion Gelora Bandung Lautan Api hingga hari ini. Persib hidup bukan hanya di lapangan hijau, tetapi di dalam kenangan dan cerita yang terus mengalir dari generasi ke generasi.
(D Hendar/ Igie)















