BENGKULU — Kompassindonesianews.Com Tekanan harga di Provinsi Bengkulu kembali meningkat pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) Bengkulu mencapai **3,99 persen**, dengan Kabupaten Mukomuko mencatat angka tertinggi sebesar **5,03 persen**, sementara Kota Bengkulu berada di level **3,65 persen**.
Data tersebut disampaikan BPS Provinsi Bengkulu dalam press release statistik, Selasa (1/9/2026). Ketua Tim BPS Provinsi Bengkulu, **Reny Puspasari, SST, M.E**, menjelaskan kenaikan harga terjadi pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.
Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), inflasi Bengkulu pada Agustus 2026 tercatat **0,31 persen**. Adapun secara tahunan, angka inflasi provinsi berada pada 3,99 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,43.
Reny mengatakan, sejumlah komoditas memberikan andil terhadap inflasi, antara lain **daging ayam ras, beras, emas perhiasan, bensin, angkutan udara, dan minyak goreng**.
Pada kelompok pengeluaran, **perawatan pribadi dan jasa lainnya** menjadi salah satu kelompok dengan kenaikan harga cukup tinggi, mencapai sekitar 8,43 persen secara tahunan. Kelompok **makanan, minuman dan tembakau** juga mengalami kenaikan sebesar 5,38 persen, sedangkan kelompok **transportasi** mencapai 4,94 persen.
Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok menjadi perhatian karena komoditas pangan memiliki dampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga. Daging ayam ras dan beras tercatat menjadi komoditas yang memberikan andil cukup besar terhadap inflasi Agustus.
### Mukomuko Tertinggi
Dari dua wilayah yang menjadi daerah penghitungan inflasi di Provinsi Bengkulu, **Kabupaten Mukomuko mencatat inflasi y-on-y tertinggi sebesar 5,03 persen**, dengan IHK 112,18.
Sementara itu, **Kota Bengkulu mencatat inflasi sebesar 3,65 persen**, dengan IHK 111,18. Dengan demikian, tingkat inflasi Mukomuko masih berada jauh di atas inflasi Kota Bengkulu dan menjadi perhatian dalam pengendalian harga di daerah.
Jika dibandingkan dengan Juli 2026, inflasi Bengkulu secara tahunan juga mengalami peningkatan. Pada Juli lalu, BPS mencatat inflasi y-on-y Bengkulu sebesar 3,78 persen, dengan Mukomuko 5,10 persen dan Kota Bengkulu 3,36 persen.
### Fiskal dan Pajak Sawit Jadi Penopang Ekonomi
Di tengah tekanan inflasi tersebut, kondisi fiskal daerah juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas perekonomian Bengkulu.
Imam Surahman dari instansi pengelola fiskal pemerintah di Bengkulu menyampaikan bahwa kebijakan fiskal yang tertuang dalam APBN turut memperhitungkan perkembangan berbagai harga komoditas. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan dan belanja modal di daerah.
Menurutnya, penerimaan pajak di Provinsi Bengkulu menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Salah satu penopangnya berasal dari sektor komoditas utama, khususnya **kelapa sawit**.
Penerimaan pajak dari komoditas sawit disebut telah mencapai **Rp543,9 miliar**, meningkat sekitar **40,17 persen** dibandingkan periode 2025 yang tercatat sebesar **Rp383,7 miliar**.
Pertumbuhan penerimaan tersebut menunjukkan bahwa sektor komoditas masih memiliki peran penting terhadap kinerja penerimaan negara di Bengkulu. Di sisi lain, perkembangan harga komoditas juga perlu terus dipantau karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat maupun aktivitas ekonomi daerah.
### Pemerintah Dituntut Jaga Keseimbangan
Kondisi tersebut membuat pengendalian inflasi dan penguatan fiskal menjadi dua agenda yang saling berkaitan. Ketika harga pangan dan kebutuhan masyarakat meningkat, pemerintah perlu memastikan pasokan tetap terjaga dan distribusi berjalan lancar.
Di sisi lain, meningkatnya penerimaan negara dari sektor unggulan seperti sawit dapat menjadi salah satu sumber kekuatan fiskal untuk mendukung pembangunan daerah.
Dengan inflasi Bengkulu yang mencapai 3,99 persen pada Agustus, pemerintah daerah bersama instansi terkait dituntut menjaga keseimbangan antara **stabilitas harga, daya beli masyarakat, aktivitas ekonomi, serta keberlanjutan penerimaan negara**.
Data BPS menunjukkan tekanan inflasi tidak hanya berasal dari satu komoditas. Harga pangan, transportasi, bahan bakar, hingga emas perhiasan turut memengaruhi perkembangan harga konsumen di Bengkulu.
Karena itu, pengendalian harga komoditas strategis diperkirakan tetap menjadi perhatian pemerintah memasuki bulan-bulan berikutnya, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi daerah.
Pewarta :Feronike (mimi)















