https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Peringatan Hari Pangan Sedunia, Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Undang 500 Orang Peserta

SLEMAN – KompassIndonesianews.com Dalam rangka memperingati hari pangan sedunia tahun 2026 yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2026, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pertania, Pangan, dan Perikanan, akan melaksanakan peringatan Hari Pangan Sedunia pada hari Rabu tanggal 21 Oktober 2026 bertempat di halaman Kantor Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman.

Peringatan Hari Pangan Sedunia tahun 2026 ini diikuti peserta dari Petani, Kelompok Tani, Kelompok Wanita Tani, Gabungan Kelompok Tani, Desa Mandiri Pangan, Pelaku Usaha Pertanian, serta pegawai Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Sleman dengan peserta kurang lebih 500 orang,” kata Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, saat jumapa awak media bertempat di Aula 1 Pemda Sleman, Selasa 6 Oktober 2026.

Rofiq menjelaskan peringatan Hari Pangan Sedunia Kabupaten Sleman tahun 2026 dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan yaitu : tema hari Pangan Sedunia tahun 2026 adalah ” Innovate Today Nourish Tomorrow atau Berinovasi Hari Ini Menumbuhkan Masa Depan “.

Memaknai tema hari pangan sedunia 2026, dari tataran global hingga ke dapur – dapur rumah tangga di Kabupaten Sleman. Kita setiap 16 Oktober, dunia memperingati Hari Pangan Sedunia sebagai momentum refleksi atas tantangan pangan global,” jelasnya.

Pada 2026, FAO mengangkat tema ” Innovate Today Nourish Tomorrow ” sebuah seruan yang menegaskan bahwa solusi visioner yang memadukan kearifan tradisional dengan pendekatan inklusif dapat menjamin akses semua orang terhadap pangan yang cukup, beragam, aman, dan bergizi, sekaligus melindungi planet ini bagi generasi mendatang.

” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan pengakuan bahwa sistem agropangan dunia memerlukan transformasi mendasar dari cara kita menanam, mengolah, hingga mengonsumsi pangan.

Makna tema ini dapat dibedah dalam tiga lapis, pertama berinovasi hari ini, menuntut tindakan nyata sekarang, bukan menunggu teknologi sempurna, melainkan memanfaatkan sains, teknogi, dan kearifan lokal yang sudah tersedia.

Kedua, menumbuhkan masa depan menempatkan keberlanjutan sebagai tujuan akhir, sistem pangan yang lebih efisien, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

Ketiga, kata nourish bisa dimaknai memberi nutrisi. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan hal dasar manusia yang menentukan kualitas generasi penerus.

” Sleman Laboratorium inovasi dari sawah hingga dapur, Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi contoh bagaimana tema global diterjemahkan menjadi aksi lokal. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 juta jiwa, Kabupaten Sleman menghadapi tantangan ketersediaan pangan, produksi beras Sleman tahun 2024 sekitar 60.200,79 ton dan di tahun 2025 meningkat menjadi sekitar 63.786 ton.

Sedangkan nilai Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Kabupaten Sleman pada tahun 2025 tercatat sebesar 85,50, menempatkan Kabupaten Sleman menjadi yang terbaik di pulau Jawa dan peringkat 7 nasional. IKP ini menunjukkan bahwa Kabupaten Sleman mempunyai pasokan pangan yang stabil, akses ekonomi dan fisik yang mudah terhadap pangan serta stabilitas harga pangan yang terkendali dan infrastruktur pasar/distribusi berfungsi optimal, serta pola konsumsi masyarakat yang beragam, bergizi seimbang, dan aman.

Keberhasilan Kabupaten Sleman dalam menjaga pasokan pangan tersebut ditopang oleh luas lahan pertanian produktif dan kemampuan produksi wilayah yang mampu mencakupi kebutuhan seluruh penduduk.

Kedua, pendekatan inovatif dalam pengelolaan pangan daerah, dan ketiga kreativitas petani, karena hal tersebut merupakan modal penting dalam mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.

Tambah Rofiq, inovasi pertanian Sleman partama, inovasi produksi melalui PM-AAS dan pertanian presisi pemerintah Kabupaten Sleman bersama dengan Kementerian Pertanian terus mendorong modernisasi sektor pertanian salah satunya menetapkan Kapanewon/Kecaman Seyegan sebagai daerah percontohan penerapan pertanian modern yaitu System (PM-AAS). Metode ini memadukan teknologi, mekanisasi, dan pengelolaan presisi dari pengolahan lahan hingga panen, dengan penataan jarak tanam yang optimal untuk meningkatkan populasi tanaman secara signifikan hingga di atas 9 ton gabah kerin panen per hektare.

” Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan memperkuat ketahanan pangan melalui penyusunan peta ketahanan pangan (Food Security and Vulnerability Atlas). Instrumen ini memetakan kondisi ketahanan dan kerentanan pangan di setiap Kapanewon/Kecamatan, mencakup aspek ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan, serta stabilitas pangan.

Dengan data yang akurat, pemerintah daerah dapat melakukan mitigasi risiko sejak dini dan memfokuskan alokasi sumber daya pada wilayah yang benar – benar membutuhkan,” kata Rofiq.

(Joni)

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *