https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Hendak Membuat Konten di Pinggir Rel Kereta – Pria 23 Tahun Tewas Tertemper KRL di Tangerang Selatan

Tangerang Selatan – kompassindonesianews.com/ — Sebuah rekaman mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibuat. Namun, ketika proses pengambilan gambar dilakukan di tempat yang salah, risikonya dapat mengubah seluruh perjalanan hidup seseorang.

Seorang pria berinisial MF (23) meninggal dunia setelah tertemper Kereta Rel Listrik (KRL) di jalur aktif antara Stasiun Serpong dan Stasiun Sudimara, Tangerang Selatan, pada Kamis (8/10/2026) sekitar pukul 18.15 WIB.

Menurut keterangan saksi yang diterima kepolisian, korban diduga sedang membuat konten untuk keperluan tugas kuliah ketika kereta melintas. Informasi awal tersebut masih menjadi bagian dari penyelidikan, sehingga belum dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembuatan konten merupakan satu-satunya penyebab terjadinya kecelakaan.

Kapolsek Ciputat Timur, Kompol Bambang Askar Sodiq, menjelaskan bahwa korban berada di sekitar jalur rel bersama saksi. Saat kereta melintas, korban tertemper dan dilaporkan terseret sejauh kurang lebih 200 meter. Petugas kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan, olah tempat kejadian perkara (TKP), serta menghubungi tim identifikasi Polres Tangerang Selatan.

Dalam pemeriksaan awal, polisi turut mengamankan telepon genggam dan kamera digital sebagai barang bukti untuk membantu mengungkap aktivitas korban sebelum kecelakaan.

Hingga laporan ini disusun, rincian lengkap mengenai kronologi dan alasan korban berada di area rel masih harus merujuk pada hasil penyelidikan kepolisian.

Perjalanan KRL Sempat Terganggu

Insiden tersebut juga berdampak pada perjalanan Commuter Line lintas Rangkasbitung–Tanah Abang atau Green Line.

Melalui akun X resminya, KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf kepada penumpang atas keterlambatan perjalanan KA 1771D yang tertemper orang di antara Stasiun Serpong dan Sudimara. Petugas melakukan penanganan di lokasi, lalu rangkaian kereta tersebut dinyatakan dapat melanjutkan perjalanan kembali.

Dampaknya sempat terasa di sejumlah stasiun. Keluhan pengguna mengenai kepadatan penumpang beredar di media sosial, termasuk dari Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan. Laporan lain menyebut tiga perjalanan KRL mengalami keterlambatan sekitar 9–10 menit akibat insiden tersebut.

Konten Bisa Diulang, Keselamatan Tidak

Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa jalur kereta aktif bukan ruang yang aman untuk melakukan aktivitas di luar kepentingan operasional, termasuk merekam video, mengambil foto, atau menyelesaikan tugas kuliah.

Kereta yang melaju di lintasan memiliki jarak pengereman yang panjang. Masinis juga tidak selalu memiliki ruang dan waktu yang cukup untuk menghentikan rangkaian ketika seseorang berada di jalurnya.

Mengejar sudut gambar yang menarik boleh menjadi bagian dari kreativitas. Menyelesaikan tugas kuliah pun merupakan tanggung jawab. Namun, keduanya tidak seharusnya dibayar dengan risiko yang mengancam nyawa.

Bagi siapa pun yang membutuhkan latar rel untuk produksi foto atau video, gunakan area publik yang aman dan diizinkan, serta jangan memasuki jalur aktif demi mendapatkan gambar yang dianggap lebih dramatis.

Pada akhirnya, sebuah karya tidak dinilai hanya dari seberapa berani seseorang mengambil gambar, melainkan juga dari kebijaksanaan dalam menjaga keselamatan selama proses pembuatannya.

Sebab rekaman dapat diulang. Tugas dapat diperbaiki. Tetapi nyawa manusia tidak memiliki tombol untuk memulai kembali.

Burhanudin Fajri

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *