https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Napak Tilas Sejarah Habibie di Tangga 1000: Ketua IWO Indonesia Nursalim Turatea Dorong Penguatan Ekowisata Budaya Batam

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

 

Batam, kompasindinesianews.com – 4 Mei 2025 — Pesona Wisata Tangga 1000 di kawasan Sekupang, Kota Batam, menjadi saksi bisu momen penting saat Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia, Nursalim Turatea, melakukan kunjungan kerja sekaligus napak tilas ke lokasi yang sarat nilai sejarah dan potensi pariwisata unggulan. Tak hanya sebagai Ketua IWO Indonesia, Nursalim juga merupakan Ketua Afiliasi Pengajar Peneliti Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau, yang aktif mempromosikan integrasi antara pendidikan, kebudayaan, dan pembangunan wisata berkelanjutan.

Kedatangannya disambut penuh keakraban oleh Zaenal Abidin, Dewan Pembina Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sekupang, Batam. Dialog hangat antara tokoh nasional dan pegiat wisata lokal itu berlangsung di tengah suasana alam yang sejuk, asri, dan penuh kedamaian. Pesona Wisata Tangga 1000 memang menawarkan lebih dari sekadar keindahan visual: ia menyimpan cerita panjang tentang jejak awal Presiden RI ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang menjadi fondasi berdirinya Otorita Batam.

Di kawasan inilah berdiri rumah pertama milik Habibie yang kini menjadi simbol kehormatan dan warisan sejarah pembangunan Batam. Tak jauh dari lokasi, terdapat pula Pulau Dangas—yang dikenal luas sebagai Pulau Habibie—menegaskan kuatnya nilai historis kawasan ini sebagai bagian dari jejak intelektual dan kepemimpinan nasional.

Akses menuju lokasi sangat strategis. Dari jalan utama Sekupang, tepat di samping Hotel Shangri-La, wisatawan hanya perlu menempuh waktu 15 menit untuk tiba di lokasi. Di sepanjang perjalanan, pemandangan alam terbuka menyuguhkan ketenangan yang jarang ditemukan di pusat kota.

Fasilitas wisata yang tersedia pun tergolong lengkap dan dirancang untuk menunjang berbagai kegiatan. Mulai dari rumah pohon yang menyajikan sudut pandang panoramik, arena paintball Sekupang yang menantang, hingga wisata pantai dan hutan mangrove yang menyatu dalam keindahan alam tropis. Tak hanya itu, tersedia juga fasilitas panggung utama berkapasitas 50 hingga 100 orang, serta 20 unit panggung lesehan yang ideal untuk pertunjukan seni, pelatihan komunitas, maupun kegiatan edukatif berbasis budaya. Fasilitas musholla yang nyaman pun turut melengkapi destinasi ini sebagai tempat wisata yang ramah bagi semua kalangan.

Tempat ini bukan hanya indah, tetapi juga memiliki kekuatan simbolik sebagai ruang belajar sejarah dan karakter bangsa. Tangga 1000 seharusnya kita dorong sebagai pusat wisata edukatif yang mampu mempertemukan ilmu, budaya, dan alam secara harmonis,” ujar Nursalim Turatea dalam wawancaranya di lokasi.

Menurut Nursalim, peran komunitas sadar wisata seperti Pokdarwis sangat penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan ini. Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk akademisi, jurnalis, seniman, dan pelaku wisata agar kawasan Tangga 1000 bisa dikembangkan secara profesional, tanpa meninggalkan akar kultural dan nilai sejarahnya.

Zaenal Abidin menyambut baik komitmen tersebut dan menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga ekosistem dan kebersihan lingkungan sekitar. “Wisata alam dan sejarah seperti ini sangat membutuhkan keterlibatan kolektif. Kami bersyukur karena dukungan dari tokoh-tokoh nasional seperti Pak Nursalim membawa semangat baru bagi gerakan wisata berbasis kearifan lokal,” jelasnya.

Meski matahari siang cukup terik, hawa sejuk di kawasan hutan wisata bahari dan mangrove membuat pengunjung tetap merasa nyaman. Alam seakan menjadi sahabat yang menyambut setiap langkah, menjadikan kunjungan ini bukan hanya kegiatan biasa, melainkan pengalaman yang membekas dalam kesadaran ekologis dan kebangsaan.

Dengan latar belakang sebagai pendidik, peneliti, dan pemimpin organisasi jurnalistik nasional, Nursalim Turatea melihat Tangga 1000 sebagai potensi emas yang belum digarap maksimal. Ia bertekad menjadikan kawasan ini sebagai bagian dari peta besar wisata literasi dan budaya Indonesia, yang menggabungkan narasi sejarah, aktivitas edukatif, serta pengalaman wisata berbasis ekologi.

Kunjungan ini bukan hanya sebuah seremoni, tetapi awal dari semangat baru—sebuah kolaborasi antar elemen bangsa untuk mengangkat nilai-nilai lokal menjadi kebanggaan nasional. (Nursalim Turatea).

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *