Kompassindonesianews.com –
Jakarta, Selasa (24/3/2026)
International. Wacana pembentukan Board of Peace (BOP) sebagai forum baru perdamaian dunia memicu perdebatan di kalangan pengamat internasional, di tengah meningkatnya ketegangan global di kawasan Timur Tengah, Eropa Timur, dan Asia Pasifik.
Sejumlah analis menilai, inisiatif tersebut berpotensi menciptakan konfigurasi baru kekuatan global apabila tidak melibatkan seluruh aktor utama dunia.
Negara-negara yang memiliki kedekatan dengan blok Barat, seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Inggris, Jerman, Prancis, Kanada, dan Korea Selatan, diperkirakan menjadi motor penggerak forum tersebut.
“Jika tidak dirancang inklusif, forum ini berpotensi merepresentasikan kepentingan kelompok tertentu,” ujar Hikmahanto Juwana.
Sementara itu, tidak dilibatkannya negara seperti China dan Rusia dinilai dapat memengaruhi legitimasi global forum tersebut.
“Sulit membayangkan efektivitasnya tanpa partisipasi dua kekuatan besar tersebut,” kata Teuku Rezasyah.
Negara lain seperti Iran dan Korea Utara juga diperkirakan tidak terlibat.
Dalam konteks ini, United Nations (PBB) tetap dipandang sebagai forum utama yang memiliki legitimasi global dalam menjaga perdamaian dunia.
Peran Indonesia
Sebagai negara dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga keseimbangan global.
Indonesia juga terus mendorong penyelesaian konflik secara damai, termasuk dalam isu kemerdekaan Palestina.
Prabowo Hadiri Forum di Washington
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri forum perdamaian internasional di United States Institute of Peace, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026).
Pertemuan tersebut membahas stabilisasi kawasan konflik, termasuk upaya pemulihan pascakonflik di Gaza.
Dalam forum tersebut, berkembang pula wacana penguatan kerja sama global, termasuk gagasan pembentukan forum dialog internasional yang dalam diskusi geopolitik disebut sebagai Board of Peace (BOP).
Wacana Board of Peace mencerminkan upaya mencari pendekatan baru dalam menjaga perdamaian dunia. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada keterlibatan seluruh kekuatan global.
Dunia kini dihadapkan pada tantangan untuk membangun perdamaian yang inklusif di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
(Komarudin)














