JAKARTA, – Jumat (12/06/2026),– Kompassindonesianews.com PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk (CAKK) telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2025 dan juga menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta pada hari Jumat, 12 Juni 2026, yang dipimpin oleh Bapak Anthony Soehartono selaku Komisaris Independen.
Johan Silitonga selaku Direktur Utama CAKK menuturkan, Perseroan mampu membukukan Pendapatan Bersih di tahun 2025 sebesar Rp 366,23 Miliar atau naik 52,93% dibandingkan pendapatan bersih tahun 2024 senilai Rp 239,48 Miliar.
Untuk Laba Bruto Perseroan tahun 2025, terdapat pertumbuhan sebesar Rp 8,73 Miliar atau bertumbuh sebesar 203,14% dibandingkan dengan Laba (Rugi) Bruto tahun 2024 sebesar (Rp 8,46 M).
Volume penjualan CAKK juga mengalami pertumbuhan pada tahun 2025 menjadi sebesar 8,7 juta m², meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 6,7 juta m². Adapun penjualan terbesar masih didominasi oleh produk berukuran 40 cm x 40 cm”.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan tantangan di tahun 2025 belum mampu menghadirkan situasi ideal bagi Perseroan. Tekanan yang kuat untuk meningkatkan kinerja membuat Direksi belum berhasil mencapai target laba tahun 2025 yang diharapkan para pemangku kepentingan.
Tantangan terbesar datang dari penggunaan Gas Bumi, yang menjadi bagian utama dalam mendukung proses operasi dan produksi. Suplai gas mengalami penurunan karena adanya gangguan pasokan gas bumi, sehingga penggunaan gas dibatasi.
Perseroan tidak menerima kuota AGIT 100% sesuai dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Untuk menutupi kekurangan pasokan gas tersebut, Perseroan dikenakan harga Non-AGIT dengan biaya yang mahal, sehingga menyebabkan naiknya biaya produksi.
Persoalan ini bukan kasus yang berdiri sendiri pada Perseroan, melainkan tekanan struktural yang dihadapi seluruh sektor keramik nasional.
ASAKI mencatat persentase Alokasi Gas Industri Tertentu yang diterapkan PGN terus menurun sepanjang tahun. Tren ini berlanjut hingga 2026, ketika realisasi AGIT di Jawa bagian Barat hanya mencapai 37,5 persen, terendah sejak kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu diberlakukan pada 2021, sehingga harga gas yang diterima industri melonjak ke kisaran USD 11,5 sampai 12 per MMBTU, lebih dari 60 persen di atas harga HGBT sebesar USD 7 per MMBTU.
Karena fasilitas produksi Perseroan berada di Jawa bagian Barat, dampak penurunan kuota ini langsung membebani struktur biaya kami. Beban tersebut diperberat oleh pelemahan nilai tukar Rupiah sepanjang tahun.
Pembayaran gas masih dilakukan dalam dolar Amerika Serikat, sementara Rupiah terus melemah, sehingga selisih kurs ikut menggerus margin Perseroan.
Harga gas yang naik sekaligus harus dibayar dalam dolar, sebagaimana “sudah jatuh tertimpa tangga”; biaya produksi naik karena gas mahal, lalu diperparah kerugian kurs akibat pelemahan rupiah.
Sebagai gambaran, komponen biaya gas saja sudah mencapai 35 sampai 38 persen dari total biaya produksi. Tekanan ketiga menyentuh sisi bahan baku. Pengetatan perizinan galian C di tingkat pemerintah daerah mempersempit akses Perseroan terhadap bahan baku lokal, sekaligus menambah biaya logistik apabila bahan baku harus didatangkan dari luar wilayah,” ungkap Hermawan Sutantio selaku Direktur Perseroan.
Namun, sesuai dengan Paparan Publik Tahunan yang diselenggarakan Perseroan pada hari yang sama, Perseroan Optimis di tahun 2026 performance menjadi lebih baik lagi, Perseroan telah menyusun beberapa strategi untuk meningkatkan kinerja Perseroan, diantaranya adalah Perseroan sedang meremajakan mesin yang ada untuk mendukung pertumbuhan di tahun mendatang serta meningkatkan efisiensi dan hasil produksi. Kemudian, Perseroan akan menambah jumlah agen untuk pemerataan distribusi di seluruh Indonesia.
Redaksi














