Merak, Kompassindonesianews.com, Rabu 25/03/2026
Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Merak kembali menjadi sorotan.
Berdasarkan pantauan awak media dari area lobby eksekutif, sebuah kapal feri yang diduga Kapal Ferry Legundi terlihat mengeluarkan asap hitam pekat dari cerobongnya saat beroperasi menuju Pelabuhan Bakauheni.
Asap hitam tersebut dinilai mencemari udara di sekitar pelabuhan serta berpotensi mengganggu lingkungan laut dan aktivitas masyarakat yang melintas.
Menurut pengamatan di lapangan, emisi asap yang dihasilkan kapal diduga berasal dari pembakaran bahan bakar diesel yang tidak sempurna.
Kondisi ini umumnya menghasilkan zat berbahaya seperti partikel halus (PM), oksida nitrogen (NOx), oksida sulfur (SOx), dan karbon monoksida (CO).
Dampak terhadap kesehatan dan lingkungan
Pakar lingkungan menyebutkan, paparan asap hitam dari kapal dapat berdampak serius bagi kesehatan manusia.
Dalam jangka pendek, asap tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, dan iritasi saluran pernapasan.
Sementara dalam jangka panjang, paparan terus-menerus berisiko memicu penyakit kronis seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Selain itu, polusi dari emisi kapal juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung serta penurunan kualitas hidup masyarakat di sekitar kawasan pelabuhan.
Dari sisi lingkungan, emisi gas buang kapal dapat memicu hujan asam akibat reaksi SOx dan NOx di atmosfer. Dampaknya, ekosistem pesisir dan laut berpotensi mengalami kerusakan, termasuk penurunan kualitas air dan tanah.
Gangguan bagi penumpang
Sejumlah penumpang mengaku merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut.
Asap hitam yang pekat disertai bau menyengat disebut mengganggu kenyamanan, terutama bagi penumpang yang berada di area dek atas dan dekat ruang mesin.
“Sangat terasa sesak dan baunya menyengat, apalagi saat kapal mulai bergerak,” ujar salah satu penumpang yang enggan disebutkan namanya.
Dugaan minim perawatan mesin
Kondisi ini diduga berkaitan dengan kurang optimalnya perawatan mesin kapal. Kapal feri berbahan bakar diesel yang tidak terawat berpotensi menghasilkan emisi lebih tinggi, terutama saat melakukan manuver di area pelabuhan.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak operator kapal maupun otoritas terkait mengenai dugaan pencemaran tersebut.
Perlu pengawasan lebih ketat
Pengamat menilai, diperlukan pengawasan dan pemeriksaan rutin terhadap kondisi mesin kapal guna memastikan standar emisi tetap terjaga.
Langkah ini penting untuk melindungi kesehatan penumpang, awak media Perlu pengawasan lebih ketat
Pengamat menilai, diperlukan pengawasan dan pemeriksaan rutin terhadap kondisi mesin kapal guna memastikan standar emisi tetap terjaga.
Langkah ini penting untuk melindungi kesehatan penumpang, awak kapal, serta menjaga kelestarian lingkungan laut di kawasan penyeberangan Merak–Bakauheni.
(Yolanda)














