
Pemkab Meranti Tunggu Tumbal Nyawa Untuk Perbaiki Jembatan
Meranti-KompassIndonesiaNews
Jembatan Kaki Seribu di jalan Poros Desa atau Jalan Wan Husin, Desa Mengkirau, Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kabupaten Kepulauan Meranti, akhirnya amblas pada Minggu sore, 13 April 2025, sekitar pukul 17.15 WIB. Padahal, kerusakan jembatan ini telah berulang kali dilaporkan masyarakat sejak lama.
Pantauan awak media Kompassindonews dilokasi terlihat kondisi badan jembatan yang mengalami penurunan sekitar 30 cm. Untuk meminimalisir kerusakan kendaraan yang akan melintasi jembatan, warga Mengkirau menambahkan beberapa balok kayu di kedua ujung jembatan.
Hingga hari ini terus turun hingga lebih kurang 30 sentimeter, penurunan terus berlangsung sedikit demi sedikit, memicu kekhawatiran besar warga akan potensi putus totalnya akses transportasi.

Warga sudah berulang kali melaporkan kondisi tanah penahan jalan yang labil ke pihak pemerintah, namun tak satu pun perbaikan dilakukan hingga akhirnya terjadi amblas. Kini, warga merasa was-was saat melewati jembatan ini.
Jembatan tersebut adalah satu-satunya akses jalan yang menghubungkan Desa Mengkirau ke wilayah Kecamatan Merbau dan ke pusat pemerintahan di Kota Selatpanjang.
Beberapa warga yang ditemui awak media menyatakan kekecewaannya. “Kami capek melapor. Sudah sering. Tapi tetap saja tidak ada tindakan. Mau tunggu jembatan roboh dulu baru diperbaiki?” cetus seorang warga dengan nada geram.
Hal senada dikatakan warga lainnya. “Apakah harus ada korban jiwa dulu baru di perhatikan jembatannya?” ujarnya.
Ditempat terpisah, Camat Tasik Putri Puyu, Zainal, SE, membenarkan kondisi tersebut dan mengimbau warga agar tetap waspada. Ia menyampaikan bahwa laporan sudah diteruskan ke instansi terkait di tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Kondisi jembatan sangat memprihatinkan. Kami sudah sampaikan ke pemerintah dan berharap segera ada perbaikan sebelum menimbulkan korban jiwa,” ujar Camat Zainal.
Namun bagi masyarakat, janji dan laporan bukan lagi hal baru. Mereka menuntut tindakan konkret. Sebab, mereka tak ingin peristiwa tragis runtuhnya dua jembatan di wilayah lain di Kepulauan Meranti terulang di desa mereka.
“Ini bukan sekadar soal jembatan amblas. Ini soal nyawa, soal masa depan. Kalau pemerintah terus lambat, kami siap turun aksi,” tambah warga lainnya dengan suara tinggi.
Jembatan Kaki Seribu selama ini menjadi jalur utama untuk aktivitas ekonomi, distribusi logistik, pendidikan, dan layanan kesehatan. Jika kerusakan ini dibiarkan, bukan hanya akses jalan yang lumpuh tetapi kepercayaan publik pada pemerintah juga akan runtuh bersama tiangnya.
Penulis : Ardes
Editor : Jemmy















