https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Mas Bagong, Sang Pemersatu Budaya Lewat Pendopo Jawa-Melayu Bengkalis

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

 

BENGKALISkompassindonesianews.com
Ketika pembangunan fisik menjulang di mana-mana, tidak banyak yang berpikir untuk mendirikan bangunan budaya sebagai pengikat nilai dan identitas. Namun, di tengah arus zaman itu, Masuri, SH, atau yang akrab dikenal dengan Mas Bagong, tampil beda. Ia memilih membangun Pendopo Jawa bukan sekadar sebagai bangunan, tapi sebagai tanda cinta dan dedikasi terhadap warisan budaya leluhur.

Pendopo yang terletak di Jl. Antara Gg. Pendopo, atau Tegal Sari – Desa Wonosari, Kecamatan Bengkalis itu berdiri megah, memadukan kekayaan arsitektur Jawa dan Melayu. Bangunan berukuran 20×20 meter itu berdiri dengan anggun, lengkap dengan ukiran kayu jati Jepara bermotif pohon dewandaru dan ornamen selembayung, simbol harmoni dua budaya besar yang tumbuh di Kabupaten Bengkalis.

Ketika tim media mengunjungi lokasi pada 11 Mei 2025, proses penyelesaian bangunan tinggal tahap akhir—pemasangan lis plang di atap pendopo. Namun semangat dan pesan yang dipancarkan dari bangunan itu sudah terasa: ini bukan bangunan biasa, melainkan rumah budaya yang terbuka bagi semua.

Sebagai Ketua KADIN Provinsi Riau dan juga Penasehat sekaligus Gus Pembina DPC ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional) Kabupaten Bengkalis, Mas Bagong telah malang-melintang dalam dunia usaha, organisasi, dan sosial. Namun kecintaannya terhadap budaya—khususnya budaya Jawa yang dibawanya—mendorongnya untuk meninggalkan warisan bernilai tinggi ,ruang berkumpul, ruang musyawarah, ruang silaturahmi lintas suku.

Saya ini cuma orang biasa, tapi saya yakin budaya itu perekat. Kita boleh berbeda, tapi kita bisa duduk di satu pendopo yang sama,” ujar Mas Bagong saat ditemui.

 

Pendopo ini dirancang multifungsi ,ada ruang rapat, ruang tamu, kamar mandi, ruang ganti, dan ruang istirahat. Tidak ada tarif, tidak ada syarat—siapa pun yang ingin menggunakan pendopo untuk kegiatan budaya akan dilayani secara gratis.

Bukan hanya bangunan fisik, Mas Bagong juga berencana menghadirkan gamelan Jawa untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional. Ia percaya, pelestarian budaya harus aktif—harus berbunyi, harus bergerak.

Jangan sampai budaya kita hanya jadi cerita. Harus hidup, harus dimainkan, harus dinikmati anak cucu kita,tegasnya.

 

Rencananya, pendopo ini akan diresmikan pada pertengahan bulan Suro (Juli 2025) dengan kehadiran tokoh-tokoh penting, termasuk Gubernur Riau Abdul Wahid, Ustaz Abdul Somad, dan Bupati Bengkalis.

Masuri, SH atau Mas Bagong, adalah bukti bahwa seorang tokoh tak harus duduk di singgasana tinggi untuk memberi pengaruh besar. Ia memilih mendirikan rumah budaya, tempat semua orang bisa berteduh dan dari situ, ia akan selalu dikenang.

Penulis Ardes

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *