https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

Pemerintah kabupaten Bengkalis Lumpuh, Rakyat Lari, Ekonomi Mati”

https://kompassindonesianews.com/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-14-at-13.38.09.jpeg

 

BENGKALISkompassindonesianews.comKabupaten Bengkalis sedang tidak baik-baik saja. Krisis keuangan yang membusuk tanpa solusi kini berubah menjadi bencana sosial yang menggilas semua lini: honorer kabur ke luar negeri, PNS tercekik utang, kontraktor menjerit nyaris bangkrut. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bungkam seolah semuanya baik-baik saja.

Tenaga honorer, yang selama ini menjadi tulang punggung pelayanan publik, memilih angkat kaki. Bukan karena tak cinta daerah, tapi karena perut tak bisa menunggu janji.

Di sini kerja pakai hati, tapi hidup seperti pengemis. Lebih baik cuci piring di Malaysia, yang penting tiap bulan ada uang masuk,” ujar seorang honorer yang ditemui di pelabuhan sebelum berangkat ke luar negeri.

Di kantor-kantor pemerintahan, nasib PNS tak kalah mengenaskan. Gaji Desember 2024 tak dibayar, April 2025 juga belum turun. Rata-rata pegawai kini bergantung pada pinjaman online, koperasi, bahkan rentenir.

Kami sudah bukan ASN, tapi ATM berjalan untuk aplikasi pinjol,” sindir seorang PNS yang diwawancarai di Bengkalis, Senin (12/5/2025), dengan nada getir.

 

Kondisi ini makin brutal bagi kontraktor. Pekerjaan diselesaikan, laporan rampung, tapi uang tak kunjung cair. Banyak dari mereka harus menjual aset, menunggak gaji pekerja, bahkan menghentikan operasional.

Apa yang harus kami lakukan? Mau demo? Mau mogok? Sudah habis cara. Kami bertahan dari utang dan belas kasihan,” ucap seorang rekanan proyek dengan wajah lelah.

 

Ironisnya, Pemerintah Kabupaten Bengkalis justru memilih diam. Tak ada pernyataan resmi, tak ada solusi konkret, hanya sunyi dan janji-janji basi yang tak pernah ditepati. Dalam diam itulah rakyat dibiarkan tenggelam dalam jerat kemiskinan dan keputusasaan.

Bengkalis bukan lagi darurat. Ini sudah fase kolaps. Pemerintahan lumpuh, rakyat lari, ekonomi mati. Sampai kapan kebohongan ini dipertahankan?

Penulis: Ardes

NATAL-ANDI-SUHAY-II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *